Iran, mu4.co.id – Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah menuding Israel melanggar gencatan senjata dengan melancarkan serangan ke Lebanon Selatan pada Ahad (21/4), mengakibatkan 32 warga wilayah Lebanon tewas . Penutupan jalur pelayaran strategis itu dilakukan di tengah perundingan Iran dan Amerika Serikat (AS) di Swiss pada 21-22 Juni 2026.
Menurut laporan kantor berita Tasnim yang mengacu pada sumber pejabat Iran yang mengetahui proses negosiasi, Teheran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali hingga gencatan senjata di Lebanon benar-benar dihormati.
Pada Senin (22/6), Iran menegaskan Selat Hormuz tetap ditutup hingga ada izin yang memungkinkan ekspor minyak Iran kembali berjalan. Dilaporkan juga bahwa Angkatan Laut Garda Revolusi belum mengizinkan kapal melintas sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menyalahkan Presiden AS Donald Trump atas penutupan tersebut dan mendesak agar jalur pelayaran strategis itu segera dibuka kembali.
“Pada akhirnya, sumbat di leher botol Selat Hormuz didorong masuk oleh Donald Trump, bukan oleh kami, tetapi kami memiliki kepentingan untuk membukanya kembali,” ujar Pistorius dikutip dari detik news, Selasa (23/6).
“Pembukaan Selat Hormuz, atau lebih tepatnya jalur aman untuk melintasinya, adalah demi kepentingan Eropa, demi kepentingan pasokan energi kita dan pemulihan ekonomi kita,” sambungnya.
Baca Juga: Masuki Babak Baru, AS dan Iran Teken Dokumen Perjanjian Damai
Sebelumnya, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama 60 hari untuk membuka jalan bagi perundingan damai. Meski begitu, Iran tetap menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon yang dinilai melanggar kesepakatan.
Di sisi lain, militer AS menyatakan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz masih berjalan. Sementara itu, Israel dan Hizbullah disebut telah menyepakati gencatan senjata meski Israel menegaskan akan tetap bertindak terhadap ancaman, sedangkan Hizbullah belum memberikan konfirmasi resmi terkait gencatan senjata.
(Detik News, CNN)















