Jakarta, mu4.co.id – Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.600 per dolar AS pada perdagangan Jum’at (15/5), setelah sebelumnya berada pada Rp17.550. Pergerakan tersebut terlihat dari data Morningstar yang tampil di Google Finance.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan ini dipicu penguatan dolar AS akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk situasi di Selat Hormuz dan potensi konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran.
“Saya melihat bahwa rupiah hari ini diperdagangkan melemah karena menguatnya dollar AS pada perdagangan hari ini, ya bahkan kemarin pun juga pada memasuki pasar Amerika, indeks dollar terus mengalami penguatan,” ungkap Ibrahim dikutip dari Kompas, Jum’at (15/5).
Situasi memanas setelah muncul laporan serangan terhadap fasilitas minyak Iran yang disebut melibatkan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.
“Harus diingat bahwa permasalahan gejolak geopolitik di Timur Tengah ini masih terus dijadikan sebagai momok, terutama adalah di Selat Hormuz. Kemudian muncul informasi bahwa yang awalnya Uni Emirat Arab melakukan penyerangan terhadap instalasi minyak Iran di Selat Hormuz, kemudian muncul Arab Saudi,” jelasnya.
Konflik di Timur Tengah dinilai semakin memanas setelah Iran disebut menyerang sejumlah wilayah yang berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat sebagai respons atas dugaan keterlibatan AS dalam serangan fasilitas minyak Iran.
Situasi ini memicu peningkatan kesiapan militer kedua pihak dan kekhawatiran perang terbuka di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.
Selain faktor global, analis Ibrahim Assuaibi juga menyoroti kondisi ekonomi domestik Indonesia. Ia menilai angka pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil, di tengah perlambatan sektor manufaktur dan melemahnya daya beli masyarakat.
(Kompas)














