Media Berkemajuan

13 April 2024, 10:21

Tempuh Pendidikan di ULM, Mahasiswa Asal Papua Ini Bagikan Kisahnya

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Lusye Nuriah S. Erari [Foto: Radar Banjarmasin]

Banjarmasin, mu4.co.id – Datang dari Nabire, Papua Tengah, mahasiswa bernama Lusye Nuriah S. Erari (19) terpilih sebagai penerima beasiswa untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Lusye Nuriah S. Erari merupakan alumni SMA YPK Tabernakel.

Pada 27 Juni 2022 untuk pertama kalinya Lusi, nama panggilannya, menginjakkan kaki di Kalimantan Selatan.

Baca Juga: Demi Bayar Sekolah, Nuraini Rela Jadi Kuli Panggul

Lusi mengaku takjub melihat Banjarbaru yang merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Selatan.

“Mungkin karena pertama kali datang ke Kalimantan Selatan,” ucapnya.

Menjalani kehidupan sebagai mahasiswa perantauan tentu memiliki banyak kisah suka dan duka.

Lusi menilai, kultur masyarakat Banjar sangat berbeda dengan daerah lain, khususnya dalam bahasa komunikasi sehari-hari. Untuk memahami cara berbicara di Kota ini Lusi memerlukan beberapa bulan hingga bisa memahaminya.

“Biasanya kalau ke kota lain, masih ada sempilan kosakata Indonesianya, jadi agak gampang dipahami. Tapi kalau di sini, logat dan kosa katanya sangat sulit dimengerti,” ujarnya.

Namun Lusi juga menyimpan kisah kurang mengenakkan hati hingga menurutnya bisa membuat tersinggung.

Beberapa temannya di kampus sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan bernada aneh.

“Kadang ada teman yang menceletuk bertanya: di Papua ada beras nggak? Ada ini nggak? ada itu nggak? Seolah dibanding-bandingkan gitu,” katanya.

“Dan terkadang mereka itu nanya sambil ketawa,” sambungnya.

Meskipun ia sudah sering menghadapi pertanyaan-pertanyaan ini, terkadang ia tersinggung juga.

“Tapi akhirnya saya anggap angin lalu saja. Mungkin candaan model begitu sudah dianggap wajar,” katanya.

Dengan berlapang dada, Lusi lebih memilih berprasangka baik dibanding mempermasalahkan hal tersebut.

Menurut Lusi, orang-orang yang bertanya seperti itu karena belum mengetahui betapa indah tanah kelahirannya.

Namun, ternyata bukan hanya dirinya saja yang mendapatkan pertanyaan bernada aneh tetapi seniornya juga. Ia mendengar cerita itu dari Ikatan Mahasiswa Papua (Imapa) Kalsel.

Lusi pun lebih memilih fokus belajar dibanding memikirkan hal-hal tersebut.

Baca Juga: Berikan Semangat dan Motivasi, Rektor ULM Turun dari Mobil Salami Mahasiswa

“Yang jelas, saya mau fokus belajar saja, soalnya tidak semua orang bisa dapat kesempatan kuliah di sini,” tegasnya.

Ia sadar betul, beasiswa itu merupakan kesempatan emas untuk mengubah nasib keluarga di kampung halaman.

“Karena orang tua saya, bapak hanya kuli bangunan dan ibu hanya di rumah. Jadi bagaimanapun saya harus berhasil. Membuat orang tua di kampung sana bangga,” ungkapnya.

Namun, yang ia sukai dari Banjarbaru dan membuatnya kerasan, di sini sangat aman.

“Saya sering keluar malam-malam untuk ngerjain tugas. Nggak pernah menemui orang yang ingin berbuat jahat. Di sini jauh lebih aman,” ujarnya.

“Di sini jauh lebih aman. Itu yang paling beda sama daerah lain (Papua). Makanya saya bersyukur bisa kuliah di sini.” tutupnya.

Sumber: radarbanjarmasin

[post-views]
Selaras
error: Content is protected !!