Banjarmasin, mu4.co.id – Memperingati Yaumul Milad ke-57 Masjid Al-Jihad Banjarmasin pada tanggal 11 Juli, hari ini kita kembali menelusuri jejak sejarah tokoh-tokoh sesepuh, pelaku saksi sejarah yang pada masa tahun 1969, beliau telah menyaksikan atau terlibat langsung ikut serta dalam proses penggalangan dana serta pembelian bangunan dan tanah.
Dan salah satunya adalah H. Suryadi, yang merupakan putra ketiga dari H. Husin Rasyid rahimahullah. H. Husin Rasyid adalah mantan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banjarmasin 4 di era tahun 1969-1970-an, ketika itu beliau bersama tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya menggagas tonggak awal berdirinya Masjid Al-Jihad Banjarmasin.
Di tahun 1969 tersebut, Suryadi kecil masih berumur 13 tahun dan baru lulus SD Mawar, Jl. Cempaka 9, lalu melanjutkan ke SMEP 1 Jl. Cempaka.
Seperti yang pernah kita dengarkan dari kisah pelaku sejarah yang menggambarkan bahwa pada hari Rabu, 18 Juni 1969 pukul 14.00 Wita dilakukan rapat pertemuan yang diinisiasi oleh PCM Banjarmasin 4 diketuai H. Husin Rasyid dan wakilnya H.M. Syaifullah.
Rapat pertemuan tersebut diadakan di ruang kelas SD Muhammadiyah 8 dan 10 Jl. Cempaka 2 Banjarmasin.
Baca juga: Milad ke-57 Tahun, Kilas Balik Perjuangan Berdirinya Masjid Al Jihad Banjarmasin
Pertemuan siang itu dihadiri kurang lebih 150 orang warga dan simpatisan untuk membicarakan dan mencari solusi agar bisa segera melunasi pembayaran pembelian bangunan dan tanah di pinggir jalan Cempaka Besar yang ditawarkan oleh seorang etnis Tionghoa bernama Sin Kang kepada PCM Banjarmasin 4 dengan harga Rp4.500.000.
Harga Rp4.500.000 di tahun 1969 tersebut tergolong besar nilainya. Setara dengan 2,5 kg emas. Bila diasumsikan harga emas hari ini adalah Rp2.600.000 per gram maka harga Rp4.500.000 saat itu sebanding dengan Rp6.500.000.000 (Rp6,5 miliar).
Dari penuturan H. Suryadi, putra ketiga dari H. Husin Rasyid rahimahullah kepada mu4.co.id, ketika ditanya bagaimana sosok H. Husin Rasyid di mata anak-anaknya. Ia menceritakan beliau adalah orang yang sangat berdedikasi penuh terhadap perkembangan persyarikatan Muhammadiyah di Banjarmasin.
“Salut pang lawan kuitan (orang tua), Abah (Bapak) itu mulai membangun SD Muhammadiyah di Cempaka, masjid, rumah sakit Islam itu Abah jua penggagasnya,” ujar Suryadi.
Pada saat H. Husin Rasyid memimpin rapat pertemuan di ruang kelas SD Muhammadiyah Jalan Cempaka 2, beliau menyampaikan kata sambutan yang konon mampu menggugah dan mengetuk hati para hadirin untuk turut berinfak sedekah.
H. Suryadi mengenang kembali peristiwa tersebut dan menceritakan saat itu pidato sambutan yang disampaikan oleh ayahnya, H. Husin Rasyid merupakan api pengobar semangat jihad.
“Retorikanya itu nah, masih ingat aja sampai ini. Retorika Abah waktu dulu menggugah urang (orang). Mantap banar,” kenang Suryadi.
Waktu itu H. Husin Rasyid mengatakan dengan lantang, “Apakah kita ingin mendengar suara adzan yang berkumandang di lingkungan kita ini, ataukah suara lonceng tempat ibadah agama lain? Yakinlah Allah akan menolong kita, bila kita menolong agama Allah.”
Itulah kata-kata pamungkas yang mampu menggetarkan hati setiap peserta rapat yang hadir kala itu. Tidak sedikit dari mereka yang meneteskan air mata haru. Seketika itu juga, serempak para peserta pertemuan dengan ikhlas dan sukarela menyerahkan harta benda duniawi milik mereka dan menukarnya dengan perbendaharaan akhirat yang telah dijanjikan Allah.
Satu persatu peserta maju ke depan memberikan gelang emas, kalung, anting, jam tangan, Bahkan ada yang menyerahkan sertifikat rumah, uang modal usaha, jam dinding, mesin pompa air, sepeda ontel dll.
Ketika ditanya sebelum H. Husin Rasyid berangkat ke rapat pertemuan tanggal 18 Juni 1969 itu, apa yang dikatakan beliau saat di rumah?
H. Suryadi menceritakan saat itu ayahnya sempat berbincang dengan sang istri dan menceritakan hendak mengadakan penggalangan dana pembelian bangunan dan tanah untuk dibangun masjid.
Lalu H. Husin Rasyid bertanya kepada istrinya, “Apakah ada punya simpanan uang untuk ikut menyumbang?” Lantas dijawab sang istri, “Kadada (tidak ada) duit kita.”
“Kalau kadada ya sudah ayu ai,” balas H. Husin Rasyid. Kemudian beliau melangkah menuju ke pintu rumah. Sebelum berangkat, sang istri kembali memanggil, “Ini aja ada nah (ini saja),” ucap sang istri sambil menyodorkan satu untai gelang emas dipakai sehari-hari yang konon beratnya 27 gram.
H. Husin Rasyid memandang teduh wajah istrinya lalu bertanya, “Ikhlas aja lah?” Sang Istri menjawab mantap, “ikhlas banar.”
Kemudian H. Husin Rasyid membawa gelang emas kepunyaan istrinya tersebut ke rapat pertemuan di SD Muhammadiyah Jl. Cempaka. Saat beliau menyampaikan kata sambutan itulah, ia mengeluarkan gelang emas tersebut dari saku celananya dan berkata, “Sebagai permulaan (sumbangan pertama), ini ada titipan amanat dari seorang ibu yang anaknya sedang sakit di rumah, sehingga tidak bisa datang. Ia menitipakan gelang emas ini dengan ikhlas untuk disumbangkan.”
H. Husin Rasyid lalu menyerahkan gelang emas tersebut ke atas meja panitia tanpa menyebutkan siapa sebenarnya pemilik gelang emas tersebut, yang tidak bukan, dan tidak lain adalah gelang istrinya sendiri.
Setelah melihat momen mengharukan itu, lantas ibu-ibu dan bapak-bapak yang hadir di pertemuan tersebut satu persatu maju ke depan kemudian ikut menyumbangkan harta benda apa saja yang dimiliki mereka, hingga dapat melunasi pembelian banguan dan tanah tersebut tepat pada waktunya.
H. Suryadi juga menceritakan dahulu waktu warga gotong-royong membersihkan bangunan yang dibeli tersebut, warga sempat kesulitan mencari air.
Ia mengisahkan rumah tersebut dari kayu ulin, beratap ulin, rumahnya besar, plafonnya tinggi, ruangannya bersekat-sekat, dan banyak kamarnya, namun kemudian sekatnya dijebol agar menjadi ruangan luas untuk sholat. Halamannya juga luas. Bahkan Suryadi menceritakan waktu kecil ia sering main layang-layang di halaman rumah tersebut.
Baca juga: Jemaah Meluber Hingga ke Jalan Saat Ikuti Tausyiah UAH, Begini Persiapan Panitia!
Sedangkan jalanan di daerah tersebut dulu masih berbatu krikil, dari Cempaka Besar sampai Cempaka 7 yang jalannya lumayan bagus, tetapi dari Cempaka 7 sampai Cempaka 9 jalannya hanya berupa jalan setapak saja.
H. Suryadi juga terkenang suasana saat tahun 1969-1970-an tersebut, dikarenakan warga baru saja memiliki masjid maka ada perasaan senang dan bahagia tak terkira, sehingga setiap kali shalat maghrib-isya selalu penuh jemaahnya. Saat pulang dari masjid, jalanan juga penuh dan ramai dengan orang-orang yang pulang berjalan kaki.
“Terlebih lagi bila Ramadhan lebih ramai lagi. Pulang shalat tarawih, jalanan seperti pasar malam. Sering berpapasan dengan teman SD, SMP, SMA,” ujar Suryadi mengenang masa mudanya.
H. Suryadi menambahkan dahulu sebenarnya ada lokasi tanah lain yang rencananya akan dibangun menjadi sebuah masjid, tetapi lokasinya berada agak ke dalam. Tetapi kemudian akhirnya alhamdulillah ada Sin Kang yang menawarkan tanah di pingir jalan Cempaka tersebut dan kemudian dibeli oleh Muhammadiyah.
Melalui momentum milad ke-57 Masjid Al-Jihad Banjarmasin ini, mari kita kembali ke masjid, meramaikan dan memakmurkan masjid, menuntut ilmu, memelihara sunnah-sunnah Rasul, merapatkan shaf, menjalin silaturahim, perkuat ukhuwah, agar umat muslim kembali meraih kejayaannya.














