Media Utama Terpercaya

31 Mei 2026, 09:07
Search

Pertama di Indonesia! Muhammadiyah Miliki Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat!

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Sekolah Konservasi
Peresmian SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) di Manokwari. [Foto: Muhammadiyah]

Papua Barat, mu4.co.id – Muhammadiyah menghadirkan model pendidikan berbasis konservasi pertama di Indonesia yang mengintegrasikan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan nilai keberagaman dalam proses pembelajaran melalui pendirian SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) di Manokwari, Papua Barat. 

Sekolah yang diresmikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti pada Kamis (28/5) itu berlokasi di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Arfai, Manokwari Selatan. SMAMCO sekaligus meluncurkan Kurikulum Konservasi yang dikembangkan bersama EcoBhinneka Muhammadiyah dan WWF-Indonesia

Kurikulum tersebut memadukan nilai keagamaan, ilmu pengetahuan, serta kearifan lokal Papua Barat sebagai dasar pendidikan konservasi. Penyusunan Kurikulum itu mendapat dukungan penuh dari WWF Indonesia melalui Head of Policy and Advocacy Diah Suradiredja serta National Project Coordinator Together for People and Planet (ToPP), Ratna Dewi.

Baca Juga: Muhammadiyah Gandeng Chairul Tanjung Kelola Tanah Wakaf Jadi Aset Produktif

Dalam sambutannya, Mendikdasmen sekaligus Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan sekolah tersebut.

“SMAMCO Manokwari memiliki ciri khas yang sangat baik karena mengintegrasikan pendidikan dengan konservasi lingkungan. Ini selaras dengan arah kebijakan pemerintah dalam membangun generasi yang unggul sekaligus memiliki kesadaran menjaga alam,” kata Abdul Mu’ti dikutip dari laman Muhammadiyah, Ahad (1/6).

Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya menanamkan kecerdasan ekologis sejak dini dengan menjadikan nilai-nilai agama sebagai dasar kesadaran untuk menjaga kelestarian bumi di tengah ancaman pemanasan global.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua Barat Mulyadi Djaya menyebut SMAMCO hadir sebagai sarana pendidikan yang menanamkan kepedulian terhadap lingkungan dan nilai kemanusiaan. Sekolah ini dibangun berdasarkan nilai keagamaan serta kearifan lokal masyarakat Arfak dalam menjaga alam.

Baca Juga: Terbanyak di Dunia, Muhammadiyah Kelola 23 Fakultas Kedokteran di Indonesia!

Ia menambahkan, SMAMCO berkembang dari bekas bangunan klinik menjadi kompleks sekolah dengan 13 gedung yang dibangun secara gotong royong dalam empat bulan. 

Sementara itu, Direktur EcoBhinneka Muhammadiyah Hening Parlan menekankan pentingnya pendidikan lingkungan sebagai gerakan bersama lintas agama dan generasi.

“Krisis iklim dan kerusakan lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori. Anak-anak harus dibiasakan hidup bersama alam, memahami ekosistemnya, dan membangun kesadaran bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama,” ujar Hening Parlan.

(Muhammadiyah)

[post-views]
Selaras