Media Utama Terpercaya

2 Juni 2026, 10:15
Search

Peneliti ITS Kembangkan Alat Deteksi Kehalalan Makanan. Begini Cara Kerjanya!

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
ITS buat pendeteksi minyak babi
ITS buat pendeteksi minyak babi. [Foto: ITS]

Surabaya, mu4.co.id – Kepastian kehalalan makanan menjadi kebutuhan penting bagi umat Muslim, terutama saat berada di negara dengan mayoritas penduduk non-Muslim. Menjawab kebutuhan tersebut, tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil mengembangkan alat pendeteksi kandungan minyak babi yang praktis, cepat, dan ekonomis.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh tim peneliti dari Pusat Studi Halal ITS yang dipimpin Dr rer nat Ruri Agung Wahyuono ST MT bersama sejumlah peneliti lainnya, termasuk Prof Agus Muhamad Hatta ST MSi PhD.

Berbeda dengan metode pengujian konvensional yang memerlukan analisis laboratorium menggunakan teknologi Polymerase Chain Reaction (PCR) atau metode elektrokimia, alat yang dikembangkan ITS berbentuk strip test kit yang mudah digunakan oleh masyarakat umum.

Ruri menjelaskan, alat tersebut bekerja dengan prinsip perubahan warna berbasis material nano. Cara kerjanya mirip seperti kertas indikator pH yang umum digunakan untuk mengukur tingkat keasaman air.

Baca juga: Hebat! Mahasiswa UMS Unjuk Inovasi Keamanan Siber Global, Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia di Konferensi Black Hat Dunia

“Jadi akan terjadi perubahan warna dari reagen akibat bereaksi secara kimia dengan kandungan minyak yang ditarget,” ujarnya dilansir dari laman resmi ITS, Ahad (31/5).

Hasil akan menunjukkan warna. [Foto: ITS]

Untuk menghasilkan alat yang akurat, tim peneliti melakukan berbagai eksperimen guna menemukan formulasi reagen yang sensitif terhadap kandungan minyak babi dalam makanan. Teknologi yang digunakan mengandalkan deteksi optis melalui perubahan warna sehingga proses identifikasi dapat dilakukan secara cepat tanpa peralatan khusus.

Tak berhenti pada deteksi kandungan minyak babi, ITS juga berencana mengembangkan teknologi serupa untuk mendeteksi berbagai zat pemicu alergi pada makanan.

“Tidak hanya terbatas halal dan haram, bahan pemicu alergi lainnya juga akan kami kembangkan dengan metode kolorimetri yang sama, hanya saja formulasi reagen dan katalisnya berbeda,” kata dosen Departemen Teknik Fisika ITS tersebut.

Baca juga: Inovasi Unik! Mahasiswa Undip Sulap Kecoa Jadi Pendeteksi Korban Bencana, Raih Gold di Ajang Internasional

Menurut Ruri, inovasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat, khususnya muslim traveler dan individu yang memiliki alergi makanan, dalam memastikan keamanan konsumsi makanan di mana pun berada. Selain itu, alat tersebut juga berpotensi meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk kuliner, termasuk yang diproduksi pelaku UMKM.

ITS juga berkomitmen memproduksi material hingga perangkat deteksi ini secara mandiri guna mendukung ekosistem kewirausahaan kampus serta mengurangi ketergantungan pada produk impor.

Saat dipasarkan nantinya, harga strip pendeteksi minyak babi tersebut diperkirakan sekitar Rp10 ribu per strip untuk sekali penggunaan. Harga itu bahkan berpotensi lebih murah apabila diproduksi dalam skala besar.

Pengembangan inovasi ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, tujuan ke-4 tentang pendidikan berkualitas, serta tujuan ke-9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur.

(ITS)

[post-views]
Selaras