Istanbul, mu4.co.id – Langkah kaki mengalun memasuki pelataran luas Sultanahmet, Istanbul. Udara dingin khas Selat Bosphorus berembus lembut, membawa serta suara kicau burung-burung camar yang terbang rendah. Di hadapan berdiri sebuah mahakarya abadi yang siluetnya telah mengukir sejarah berabad-abad: Hagia Sophia.
Hari ini Jumat (9/10/2026) sengaja datang lebih awal agar bisa masuk ke dalam ruang induk Masjid Hagia Sophia. Tak berapa lama, suara azan berkumandang merdu dari menara-menaranya, memanggil ribuan jemaah dan pelancong untuk menyusun shaf salat Jum’at dalam satu barisan iman.
Namun, ketika berkunjung di bulan Oktober ini ada yang berbeda. Perancah besi dan jaring-jaring pengaman tampak membingkai beberapa bagian fasad luar—tanda bahwa Hagia Sophia saat ini sedang menjalani proses restorasi dan pemugaran besar-besaran untuk merawat usia batunya yang sudah menua, lebih dari 1.400 tahun.

Baca juga: Menghamparkan Sajadah di Grand Mosque Bursa: Saksi Bisu Kejayaan Awal Ottoman
Perjalanan Panjang: Dari Basilika Menuju Simbol Kejayaan Islam
Berdiri sejak tahun 537 M atas perintah Kaisar Bizantium Justinianus I, bangunan ini awalnya didirikan sebagai sebuah gereja katedral Kristen Ortodoks (basilika) yang megah. Selama hampir seribu tahun, ia menjadi pusat keagamaan Kekaisaran Romawi Timur. Hagia Sophia dirancang oleh dua jenius matematika dan fisika Yunani atas perintah sang kaisar: Isidore dari Miletus dan Anthemius dari Tralles.
Namun, roda sejarah berputar. Pada tanggal 29 Mei 1453, seorang Sultan muda berusia 21 tahun dari Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman), Sultan Mehmed II (Muhammad Al-Fatih) berhasil menaklukkan Konstantinopel. Hari itu juga, sang Sultan melangkah masuk ke dalam bangunan ini, bersujud syukur, dan mengubah fungsinya menjadi sebuah masjid. Kumandang salat Jumat pertama pun menggema di bawah kubahnya, menandai lembaran baru perjalanan bangunan sakral ini.
Setelah sempat difungsikan sebagai museum selama puluhan tahun sejak era Republik Turki modern, pada bulan Juli 2020, Hagia Sophia secara resmi dikembalikan fungsinya sebagai masjid aktif (Ayasofya-i Kebir Cami-i Şerifi). Kini, tempat ini terbuka tidak hanya bagi umat Islam yang ingin mendirikan salat lima waktu, tetapi juga bagi para pelancong dari seluruh dunia yang ingin menyaksikan langsung keindahan warisan sejarahnya di luar jam-jam ibadah.
Begitu Anda melangkah masuk ke dalam ruangan utamanya, keindahan arsitekturnya seakan bercerita. Kubah raksasanya yang seolah menggantung di langit-langit tanpa pilar penopang yang kasat mata mendominasi pemandangan. Cahaya matahari menerobos masuk lewat puluhan jendela kecil di dasar kubah, menciptakan ilusi magis seolah kubah tersebut melayang di udara.

Di dalam masjid, perpaduan warisan Kristen dan Islam berpadu harmonis. Anda akan menemukan marikh (tempat imam), mimbar yang anggun, serta pilar-pilar besar berlapis batu pualam antik yang diimpor dari berbagai penjuru Mediterania.

Di dinding-dindingnya yang tinggi, piringan-piringan kayu raksasa berwarna hijau tua berhiaskan kaligrafi emas karya seniman terkenal Kazasker Mustafa İzzet Efendi menghiasi ruangan. Kaligrafi melingkar tersebut bertuliskan lafaz Allah, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, serta nama-nama Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali), memancarkan ketenangan spiritual yang luar biasa.
Baaca juga: Menelusuri Keagungan Masjid Yeşil Cami Bursa: Kilau Permata Hijau di Kota Sultan
Khidmatnya Salat Jumat di Tengah Nuansa Restorasi
Suasana di dalam ruangan utama hari ini sangat padat dan syahdu. Walaupun sebagian sudut interior sedang ditutupi kain pelindung dan perancah restorasi demi menjaga kelestariannya untuk generasi mendatang, lautan jemaah tetap duduk bersila memenuhi karpet hijaunya yang tebal.
Saat khatib naik ke mimbar menyampaikan khotbah Jumat, keheningan menyelimuti jutaan pasang mata. Suara ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan dengan suara merdu menggema memantul di dinding-dinding kubah kuno.

Duduk di sana, di antara ribuan umat Muslim dari berbagai belahan dunia, rasanya seolah melintasi lorong waktu. Dada ini bergetar merasakan getaran iman yang sama dengan yang dirasakan umat Islam berabad-abad lalu saat Muhammad Al-Fatih dan pasukan terbaiknya berhasil menaklukkan konstantinopel dan melaksanakan salat Jum’at perdana di tempat yang sama.
Teringat akan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Nabi, Bisyr Al-Ghonawi, dari ayahnya (Abdullah bin Bisyr Al-Ghonawi) berkata bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ، وَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا، وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ
“Sungguh Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin tersebut, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan tersebut.” (HR. Al-Bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir, Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 8300, serta Imam Al-Baihaqi).
Meninggalkan kompleks Hagia Sophia siang itu, Mentari mulai memantulkan warna keemasan di atas kubahnya yang agung. Di tengah debu-debu halus sisa pemugaran dan deru kota Istanbul yang sibuk, bangunan ini tetap berdiri gagah—menyimpan sejuta cerita, merangkul perbedaan harmonis, dan terus memancarkan ketenangan abadi bagi siapa saja yang datang bertamu.














