Media Utama Terpercaya

7 Juni 2026, 22:42
Search

Mengapa Rupiah Anjlok ke Level Terendah, Sementara Ringgit Malaysia dan Dolar Singapura Tetap Kokoh?

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Rupiah anjlok
Ilustrasi nilai mata uang Rupiah anjlok di tengah pasar global [Foto: AI/ mu4.co.id]

Banjarmasin, mu4.co.id – Pasar keuangan Indonesia sedang menghadapi ujian berat. Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan hingga bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS, bahkan para analis memproyeksikan risiko pelemahan bisa menyentuh Rp19.000 jika sentimen global tidak membaik. Sejak awal tahun, rupiah telah menyusut sekitar 6,7% hingga 7%, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia.

Menariknya, kejatuhan ini tidak dialami secara merata oleh negara tetangga. Mata uang seperti Ringgit Malaysia (MYR) dan Dolar Singapura (SGD) justru relatif stabil, bahkan mencetak rekor terkuatnya terhadap rupiah (di mana nilai kurs per Ahad (7/6/2026) menunjukkan SGD sempat menembus Rp14.000 dan MYR melewati Rp4.500).

Mengapa dinamika ini bisa terjadi? Jawabannya terletak pada kombinasi pusaran sentimen global dan kerentanan struktural di dalam negeri.

Baca juga: Rupiah Tertekan, Dollar AS Hampir Sentuh Rp 18.000. Ini Sebabnya!

Badai Eksternal: Kebijakan The Fed dan Geopolitik

Faktor pertama dipicu oleh kondisi luar negeri. Ekonomi Amerika Serikat yang tetap tangguh membuat Bank Sentral AS (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama (higher-for-longer). Hal ini membuat investor global memilih menarik modalnya dari pasar negara berkembang (capital outflow) untuk dipindahkan ke aset berdenominasi dolar AS yang jauh lebih aman dan memberikan timbal balik (yield) tinggi.

Kondisi ini diperparah oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan AS dan Iran. Saat ketidakpastian global meningkat, dolar AS selalu menjadi aset penyelamat (safe haven) utama yang paling diburu, otomatis menekan mata uang lain termasuk rupiah.

Mengapa Singapura dan Malaysia Lebih Kebal?

Jika isu menurunnya nilai mata uang bersifat global, mengapa Singapura dan Malaysia tidak ikut anjlok sedalam Indonesia? Di sinilah perbedaan fundamental ekonomi berbicara:

  • Dolar Singapura (SGD) dan Rezim Moneter Unik: Bank sentral Singapura (MAS) tidak menggunakan suku bunga untuk mengatur ekonominya, melainkan menggunakan nilai tukar (kebijakan basket mata uang). Mereka sengaja mengarahkan SGD untuk menguat secara bertahap guna meredam inflasi impor. Ditambah dengan status Singapura sebagai pusat finansial global berkantong tebal, SGD secara alami bergerak layaknya safe haven regional.
  • Ringgit Malaysia (MYR) dan Berkah Komoditas: Malaysia diuntungkan oleh posisi mereka sebagai eksportir bersih minyak komoditas dan gas alam. Ketika ketegangan global mengerek harga minyak mentah dunia (seperti Brent dan WTI), pendapatan ekspor Malaysia melonjak. Hal ini memberi bantalan kuat bagi Ringgit untuk bertahan dari keperkasaan dolar AS.

Baca juga: Rupiah Melemah, Turis Malaysia Mengaku “Lebih Kaya” Berlibur ke Indonesia

Masalah Domestik yang Menjepit Rupiah

Berbeda dengan para negara tetangganya, Indonesia justru menghadapi beberapa persoalan internal yang membuat investor asing kurang percaya diri:

  • Surplus Perdagangan yang Menyusut tajam: Akibat tingginya harga minyak dunia, biaya impor minyak dan gas (migas) Indonesia membengkak drastis. Akibatnya, surplus neraca perdagangan yang selama ini menjadi tameng rupiah sempat hampir lenyap.
  • Kekhawatiran Defisit Fiskal: Pasar mengkhawatirkan potensi melebarnya defisit anggaran belanja negara serta rencana pengetatan kontrol pemerintah pada sektor ekspor komoditas utama. Hal ini memicu kecemasan bahwa peringkat utang Indonesia bisa diturunkan oleh lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch atau Moody’s.
  • Kurva Imbal Hasil yang Distorsif: Investor asing menilai pasar obligasi Indonesia kurang menarik karena yield investasi jangka pendek dan jangka panjang hampir sama rata (berada di kisaran 6,7%). Ketidakseimbangan ini membuat modal asing enggan bertahan di dalam negeri.

Pelemahan rupiah bukan lagi sekadar cerita tentang “Dolar AS yang sedang kuat,” melainkan refleksi dari kerentanan fundamental domestik Indonesia saat menghadapi guncangan global. Di kala Malaysia memanen keuntungan dari mahalnya energi dan Singapura berlindung di balik benteng finansialnya, Indonesia harus berjuang keras membenahi defisit anggaran dan kebijakan fiskalnya agar kepercayaan pasar bisa kembali pulih. Inilah sebabnya mata uang Rupiah tak berdaya terhadap dolar AS dibandingkan Ringgit dan Dolar Singapura.

[post-views]
Selaras