Madinah, mu4.co.id – Apabila keluar dari pintu 310 Masjid Nabawi, lalu berjalan lurus ke depan maka tidak jauh kita akan menjumpai bangunan masjid dengan arsitektur bergaya era Ottoman kuno dengan susunan batu basal hitam, pintu kayu berukir indah, dan kubah putih, serta menara menghiasi sudut barat laut.
Masjid ini berlokasi sekitar 300 meter barat daya dari Masjid Nabawi dan berada di komplek masjid bersejarah di Madinah. Tak jauh dari situ berdiri pula Masjid Abu Bakar.
Ya, itulah Masjid Al-Ghamamah. Dinamakan Al-Ghamamah yang artinya awan atau mendung dalam bahasa Arab. Hal ini dikarenakan ada persitiwa sejarah yang melatarbelakangi mengapa masjid tersebut dinamakan awan. Karena ditempat tersebut sebelumnya adalah merupakan tanah lapang yang biasa digunakan Rasulullah ﷺ dan para sahabat untuk salat berjamaah.
Baca juga: Masjid Quba, Masjid Pertama yang dibangun Rasulullah Atas Dasar Takwa
Dalam catatan sejarah di tempat tersebut pernah digunakan sebagai tempat dilaksanakannya salat Istisqa’ (salat meminta hujan).
Menurut riwayat hadits, pada saat itu, penduduk Madinah mengadu kepada Nabi Muhammad ﷺ jika mereka kekurangan air karena hujan jarang terjadi. Kemudian Rasulullah ﷺ mengajak penduduk sekitar ke tempat tersebut untuk melakukan salat Istisqa’
Selanjutnya, beliau ﷺ berdoa kepada Allah SWT sembari menghadap kiblat dan memalingkan punggungnya kepada orang-orang. Beliau membalikkan selendangnya (membuat yang kanan di atas yang kiri) dan shalat dua rakaat mengimami kami dengan mengeraskan bacaannya di kedua rakaat tersebut. Kemudian turunlah hujan kepada mereka. (Shahih Bukhari).
Baca juga: Mengenang Masjid Al Jum’ah, Tempat Rasulullah Melaksanakan Salat Jum’at untuk Pertama Kalinya
Selain menjadi tempat Rasulullah ﷺ memimpin salat Istisqa’ untuk meminta hujan, tanah lapang tersebut juga menjadi tempat Rasulullah ﷺ pertama kalinya memimpin sholat Ied bersama para sahabat dan masyarakat Madinah.

Sejarah Lahirnya 2 Hari Raya Kaum Muslimin
Jauh sebelum Islam datang, masyarakat jahiliyah Arab telah memiliki dua hari raya, yaitu hari raya Nairuz dan Mahrajan yang dirayakan dengan sambutan pesta pora yang tidak bermanfaat. Minum-minuman memabukkan, menari, adu ketangkasan termasuk salah satu ritual dalam perayaan kedua hari raya tersebut.
Berdasarkan buku Ensiklopedi Islam, kedua hari raya tersebut sejatinya berasal dari zaman Persia Kuno. Di kemudian hari, Rasulullah ﷺ mengganti kedua perayaan masyarakat Arab itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Dalam sejarah Islam, perayaan Idul Fitri pertama kali diselenggarakan pada 624 Masehi atau tahun ke-2 Hijriyah. Waktu perayaan tersebut bertepatan dengan selesainya Perang Badar yang dimenangkan oleh kaum Muslimin. Perang yang terjadi pada Ramadhan itu dengan jumlah pasukan di sisi umat Muslim yang jauh lebih sedikit dibanding kaum kafir, nyatanya diganjar Allah dengan perayaan yang luar biasa indah dan barokah yaitu hari kemenangan Idul Fitri.
Kebiasaan Rasulullah ﷺ Salat Hari Raya di Tanah Lapang
Ahmad Hawassy dalam bukunya Mengais Berkah di Bumi Sang Rasul menjelaskan bahwa sholat di hari raya disunnahkan untuk dilaksanakan di lapangan terbuka atau kalau tidak memungkinkan boleh di masjid. Hal ini membuat Rasulullah ﷺ setiap tiba hari raya selalu mendirikan sholat Ied di tanah lapang ini.
Kemudian sebagai bentuk penghormatan atas kebiasaan Rasulullah ﷺ tersebut, maka didirikanlah sebuah masjid di lokasi tersebut yang dinamakan Masjid Al-Mushalla atau yang saat ini lebih dikenal sebagai Masjid Al-Ghamamah.
Baca juga: Masjid Qiblatain, Impian Rasulullah Terwujud dalam Perubahan Arah Kiblat
Al-Mushalla artinya tempat salat karena Rasulullah ﷺ mengerjakan sholat hari raya di kawasan terbuka ini. Konon dikisahkan bahwa peristiwa sholat Idul Fitri pertama kali dilakukan di tempat tersebut pada tahun ke-2 Hijriah setelah sebelumnya turun perintah menjalankan puasa Ramadan selama 1 bulan. Oleh karena itu, masjid ini mengandung sejarah penting bagi kehidupan umat Islam.
Struktur pertama Masjid Al-Ghamamah dibangun pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz atau Umar II pada tahun 86 hingga 93 Masehi. Kemudian, bangunan ini sempat hancur dan direnovasi dengan gaya arsitektur era Ottoman oleh Sultan Abdul Majeed I.
Kini, Masjid Al-Ghamamah berbentuk persegi panjang dengan 6 kubah besar di tengahnya. Kubah terbesar berada di bagian atas mihrab. Sementara itu, lima kubah lainnya berada di area teras. Di dalam bangunan ini terdapat 2 bagian yakni area pintu masuk dan musala.

Baca juga: Begini Sejarah Pertama Kali Turunnya Perintah Puasa Ramadan!
Bentuk pintu masuk juga berbentuk persegi panjang dengan 26 meter dan lebar 4 meter. Di atasnya terdapat lima kubah kecil yang posisinya sejajar dengan fasad pintu masuknya. Bangunan Mushola sendiri memiliki panjang 30 meter dan lebar 15 meter.
Al-Ghamamah, inilah masjid bersejarah yang menjadi saksi nyata keagungan Islam di Kota Madinah. Masjid ini menyimpan kisah yang sarat makna, bagaimana dahulu Rasulullah ﷺ memimpin sholat Istisqa’ meminta turunnya hujan ditengah kemarau yang melanda, hingga kenangan indah saat salat Ied yang pertama kali beliau pimpin bersama kaum muslimin di tempat ini.