Banjarmasin, mu4.co.id – Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banjarmasin 4 menggelar Kajian Gen Z bertajuk Grow Up Kader: “Bedah Perjuangan Masa Muda Legenda Muhammadiyah” di Plaza Masjid Al Jihad Banjarmasin, Jalan Cempaka Besar, Sabtu (19/09/2026).
Kajian tersebut terbuka bagi seluruh kader Muhammadiyah dan masyarakat umum, dengan menghadirkan Ustaz Nur Fajri Romadhon, Lc., B.Sh., MA, Asisten Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.
Ketua Pelaksana, Zayyid Hudzaifi, menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan tersebut. Menurutnya, Kajian Gen Z tidak sekadar menjadi agenda berkumpul, tetapi juga menjadi ikhtiar untuk menambah ilmu dan mempererat silaturahmi. Ia berharap waktu, tenaga, dan pikiran yang diberikan dalam kegiatan tersebut menjadi amal bagi seluruh pihak yang terlibat.
“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Ustaz Nur Fajri Romadhon yang telah berkenan hadir di tengah-tengah kita. Semoga tausyiah yang disampaikan nantinya menjadi penerang, menambah keimanan, serta menjadi amal jariyah di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Banjarmasin 4, Gt. M. Rizqi Yusril Natsir Mahendra, mengaku senang dengan pelaksanaan Kajian Gen Z tersebut. Ia mengatakan kegiatan tersebut merupakan seri pertama dan diharapkan dapat dilaksanakan secara rutin, baik untuk kalangan internal maupun eksternal Muhammadiyah.
“Saya sangat senang sekali dalam acara kali ini kita bisa bertemu dalam rangkaian yang dibungkus dengan kajian yang kita namakan Kajian Gen Z. Kajian ini merupakan bagian dari Angkatan Muda Muhammadiyah, tetapi tidak terfokus pada angkatan muda saja. Kami juga membuka kegiatan ini untuk umum. Ini adalah seri yang pertama. Kami berharap kajian seperti ini bisa rutin dilaksanakan, baik secara internal maupun eksternal,” sebutnya.
Adapun dalam tausyiahnya, Ustaz Nur Fajri mengajak untuk menelusuri kembali perjalanan masa muda para tokoh Muhammadiyah dan Aisyiyah. Menurutnya, para tokoh tersebut juga pernah berada pada fase muda dengan berbagai dinamika kehidupan seperti yang dialami generasi saat ini.
“Jadi saya mau mengajak teman-teman sekalian napak tilas apa yang pernah dilalui ayahanda atau ibunda Muhammadiyah. Mereka juga pernah muda, merasakan apa yang teman-teman rasakan,” ujarnya.
Ia mengutip nasihat gurunya, Syekh Dausari, mengenai cara memandang kehidupan para ulama terdahulu. “Saya ingat sekali nasihat dari guru kita, Syekh Dausari. Kata beliau, ketika kita melihat ulama terdahulu yang saleh dan bertakwa, jangan bayangkan mereka tidak punya dinamika sebagaimana dinamika kita. Mereka juga pernah tertarik dengan lawan jenis, tergoda dengan jabatan, maupun uang,” katanya.
Menurutnya, keteladanan para ulama terdahulu bukan karena mereka tidak memiliki keinginan atau menghadapi godaan, melainkan karena mampu menjaga diri. “Jadi, jangan bayangkan para ulama terdahulu itu tidak punya dinamika. Mereka juga manusia biasa, tetapi mereka bisa menjaga diri. Di situ keteladanannya muncul. Bukan berarti mereka tidak suka dengan lawan jenis dan lainnya, tetapi mereka menjaga diri,” lanjutnya.
Dalam kajian tersebut, Ustaz Nur Fajri juga mengulas perjuangan lima tokoh yang memimpin Muhammadiyah sebelum masa kemerdekaan, diantaranya K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Ibarahim Fadlil, K.H. Hisyam, K.H. Mas Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo.

Selain itu, ia juga membahas lima tokoh perempuan yang memimpin Aisyiyah sebelum kemerdekaan, yakni Siti Bariyah, Siti Walidah, Siti Munjiyah, Siti Hayinah, dan Siti Badilah Zubair.
Melalui kajian tersebut, Angkatan Muda Muhammadiyah diharapkan dapat terus menghadirkan ruang pembelajaran dan diskusi bagi generasi muda serta masyarakat umum untuk mengenal lebih dekat nilai dan perjuangan tokoh-tokoh Muhammadiyah.















