Media Utama Terpercaya

1 Mei 2026, 21:26
Search

Inovasi Unik! Mahasiswa Undip Sulap Kecoa Jadi Pendeteksi Korban Bencana, Raih Gold di Ajang Internasional

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Mahasiswa Undip Sulap Kecoa Jadi Pendeteksi Korban Bencana
Mahasiswa Undip Sulap Kecoa Jadi Pendeteksi Korban Bencana [Foto: undip.ac.id]

Kuala Lumpur, mu4.co.id – Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip), meraih Gold Medal Asia Youth Innovation Awards dalam ajang Malaysia Technology Expo (MTE) 2026, di Kuala Lumpur, pada 9-10 April 2026.

Kompetisi inovasi yang diselenggarakan oleh Malaysian Association of Research Scientists (MARS) ini, diikuti oleh ratusan tim dari puluhan negara menunjukkan hasil inovasi teknologi terbaru yang mereka kembangkan.

Tim yang terdiri dari Muhammad Faizul Kirom, Mega Adinda Ramadhani, Helmi Yusuf, Verrill Varian Jaya Kusuma, Septhian Kallolangi, Hasna Fadhilah Aulia, dan Nicholas David Marsen, sukses membawakan ide mereka yang diberi judul “ROACH-DETECT: Cyborg Cockroach-Based System for Victim Detection in Disaster Ruins Using Edge Computing for SAR Operations”.

Inovasi tersebut mengubah kecoa menjadi teknologi pencari korban bencana. Tim Rotect memanfaatkan kecoa sebagai bagian dari sistem biohybrid untuk membantu proses pencarian di area reruntuhan.


Mahasiswa Undip Sulap Kecoa Jadi Pendeteksi Korban Bencana [Foto: undip.ac.id]

Baca juga: Hebat! Mahasiswa UMS Unjuk Inovasi Keamanan Siber Global, Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia di Konferensi Black Hat Dunia

Salah satu anggota, Muhammad Faizul Kirom, mengatakan bahwa inovasi ini bermula dari keprihatinan tim terhadap korban bencana yang sering kali sulit dijangkau oleh tim penyelamat. Untuk mengatasi hal tersebut, tim kemudian memanfaatkan kecoa berdesis Madagaskar (gromphadorhina portentosa) yang dilengkapi dengan dengan electronic backpack berbasis mikrokontroler yang berfungsi sebagai pusat kendali dan pemrosesan data.

“Tim kami mengembangkan pendekatan biohybrid, memanfaatkan kecoa jenis Madagascar Hissing cockroach sebagai platform mobilitas alami. Kalau anjing pelacak kan tidak bisa menelusuri area kecil, akhirnya kami ada solusi pakai hewan yang jauh lebih kecil lagi, buat menelusuri korban di reruntuhan,” ujarnya, dikutip dari  laman undip.ac.id, Jumat (01/05/2026).

Selain itu, sistem tersebut juga tersedia mikrokontroler yang sudah diprogram untuk bisa mengendalikan arah kecoa sekaligus mendeteksi korban melalui pola suhu tubuh manusia. Hasil deteksi kemudian dikirimkan ke situs pengawas yang dapat diakses langsung oleh tim SAR.

“Di sistem ini, kecoa dilengkapi electronic backpack berbasis mikrokontroler yang berfungsi sebagai pusat kendali dan pemrosesan data. Kita juga bisa mengendalikan kecoanya pakai stimulus elektrik agar kecoanya bisa kita arahkan ke area reruntuhannya,” terang Kirom.

Kirom pun mengaku tidak menyangka timnya berhasil meraih emas melalui inovasi ini. Ia bersyukur bahwa ide ini bisa mendapatkan apresiasi yang baik dari para dewan juri. Mereka berharap, selepas kompetisi ini, timnya bisa mengembangkan inovasi ini agar semakin sempurna dan bisa bermanfaat bagi masyarakat.

“Tentunya kami sangat senang dan bersyukur bisa meraih Gold Award di MTE. Apalagi melihat kompetisinya yang cukup ketat dengan peserta dari berbagai negara. Jadi ini benar-benar di luar ekspektasi kami. Harapan kami ke depannya, inovasi yang kami kembangkan tidak berhenti di kompetisi saja, tapi bisa terus disempurnakan dan diimplementasikan secara nyata,” pungkasnya.

[post-views]
Selaras