Mesir, mu4.co.id – Sejumlah petani di Al Qalyubia, Mesir, mulai memperluas budidaya buah pir berduri (prickly pear) dari tanaman kaktus sebagai respons terhadap musim kemarau dan terbatasnya pasokan air.
Tanaman ini dinilai lebih tahan terhadap cuaca ekstrem, mampu bertahan di tengah kondisi panas, serta hanya membutuhkan air dalam jumlah yang relatif sedikit dibandingkan tanaman pangan lainnya.
Salah seorang petani setempat mengatakan kondisi tersebut mendorong banyak petani beralih ke pir berduri sebagai bentuk adaptasi terhadap kekeringan dan dampak perubahan iklim. Seiring meningkatnya minat budidaya, produksi buah ini pun terus bertambah.
Selain populer sebagai buah musiman di Mesir, pir berduri juga dikenal kaya akan serat, vitamin, dan mineral.
Ketahanannya terhadap kekeringan serta nilai ekonominya yang menjanjikan membuat tanaman ini dinilai berpotensi menjadi komoditas penting bagi sektor pertanian, terutama di wilayah yang rentan mengalami krisis air.
Mesir saat ini masih berada dalam periode musim panas dengan suhu tinggi. Berdasarkan laporan Egyptian Meteorological Authority (EMA), sebagian wilayah negara itu beberapa hari terakhir dilanda gelombang panas, dengan suhu di kawasan Kairo dan Delta Nil berkisar sekitar 37–39 derajat Celsius, sedangkan wilayah selatan Mesir mencapai pertengahan 40 derajat Celsius.
Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan air untuk sektor pertanian dan mendorong petani beralih ke tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan.

(Kumparan, Head Topics)














