Media Utama Terpercaya

25 April 2026, 17:16
Search

Bukan Kebutuhan Nyata! BGN Luruskan Isu 19 Ribu Sapi untuk Program MBG

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
BGN Luruskan Isu 19 Ribu Sapi untuk Program MBG
Ilustrasi. [Foto: AI, mu4.co.id]

Jakarta, mu4.co.id – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengklarifikasi bahwa kebutuhan hingga 19.000 ekor sapi dalam program Makan Bergizi Gratis hanyalah simulasi perhitungan, bukan kebutuhan nyata harian. 

Angka itu muncul dari asumsi jika seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memasak menu berbahan daging sapi secara bersamaan.

“Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi,” ungkap Dadan dikutip dari detik finance, Sabtu (25/5).

Baca Juga: KPK Ungkap 8 Temuan Tata Kelola Program MBG yang Perlu Diperbaiki. Apa Saja?

Dadan menjelaskan, setiap satu kali proses memasak di satu SPPG membutuhkan sekitar 350–382 kilogram daging sapi, setara satu ekor sapi untuk kebutuhan daging. Namun, menu yang disajikan tidak selalu daging sapi, karena juga mencakup telur, ayam, dan ikan.

“Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja,” jelas Dadan.

Dadan menegaskan BGN tidak pernah menerapkan menu seragam secara nasional agar kebutuhan bahan pangan tidak melonjak dan memicu kenaikan harga pasar. 

Baca Juga: MBG Diwacanakan Tak Lagi Menyeluruh, Hanya Fokus ke Anak Kurang Gizi

BGN menerapkan penyusunan menu MBG yang fleksibel dengan menyesuaikan potensi bahan lokal dan selera masyarakat di tiap daerah.

“Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal. Supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik,” ucapnya.

(Detik finance)

[post-views]
Selaras