Jakarta, mu4.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap potensi energi alternatif besar di dasar laut Indonesia berupa gas hidrat atau metana hidrat.
Menurut peneliti, sumber ini berpeluang menjadi energi masa depan saat cadangan minyak dan gas konvensional menipis. Potensinya diperkirakan lebih dari 800 Trillion Standard Cubic Feet (TSCF), jauh melampaui cadangan gas alam konvensional Indonesia yang sekitar 345 TSCF.
“Potensi tersebut tersebar di wilayah laut dalam, terutama di kawasan Indonesia Timur yang secara geologi masih sangat menjanjikan,” ungkap Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Susilohadi, dikutip dari detik edu, Rabu (29/4).
Baca Juga: Air Laut Indonesia Ternyata Diekspor ke 5 Negara Besar. Apa Fungsinya?
Metana hidrat adalah gas metana yang terperangkap dalam struktur padat mirip es, pada dasarnya gas yang menyatu dengan air namun mengandung metana sangat tinggi. Endapan energi ini terbentuk alami di laut dalam, biasanya pada kedalaman lebih dari 500 meter dengan suhu rendah dan tekanan tinggi, sehingga berpotensi menjadi sumber energi alternatif.
Metana hidrat di Indonesia telah terdeteksi di selatan Selat Sunda serta utara dan selatan Selat Makassar melalui pemetaan geofisika seismik. Karena wilayah laut dalam Indonesia sangat luas, masih ada potensi cadangan yang belum terungkap.
Namun, pengembangannya menghadapi tantangan besar, terutama biaya, teknologi ekstraksi yang masih dikembangkan, serta keterbatasan infrastruktur riset.
Baca Juga: Riset BRIN: Polusi Mikroplastik Telah Mencapai Dasar Laut Dalam Indonesia
“Sampai saat ini kita belum bisa mengambil data primer terkait metana hidrat. Jadi, penelitian yang dilakukan masih memanfaatkan data seismik sekunder yang sudah ada,” ujar Susilohadi.
Sementara itu, pemerintah berencana menghadirkan kapal riset baru pada 2029 agar penelitian metana hidrat bisa dilakukan lebih mendalam mulai 2030.
Pengembangannya membutuhkan komitmen kuat dan kerja sama internasional yang saat ini sudah mulai dijalin. Jika dikelola dengan baik, metana hidrat dinilai berpotensi menjadi alternatif penting untuk menjaga ketahanan energi nasional saat cadangan fosil menipis.
(Detik edu)















