Jakarta, mu4.co.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi asap karhutla dari Kalimantan mulai menyebar ke Jakarta, Banten, dan Jawa Barat pada Jum’at (16/10), melalui pantauan citra satelit Himawari 9 pukul 10.00 WIB yang menunjukkan pergerakan asap tersebut.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan asap karhutla dari Kalimantan dapat mencapai Jakarta meski Indonesia sedang mengalami musim angin timuran. Sebab, arah angin tidak selalu bergerak dari timur ke barat.
“Namun, arah angin dapat berubah menurut lokasi, ketinggian, waktu, dan kondisi atmosfer. Karena itu, angin di Kalimantan belum tentu memiliki arah yang sama dengan angin di Laut Jawa maupun Jakarta,” ujar Daryono dikutip dari Republika, Ahad (18/10).
Baca Juga: UAS Ganjil Siswa di Palangka Raya Berpotensi Diundur Akibat Asap Karhutla!
Daryono menjelaskan asap karhutla dari Kalimantan dapat terbawa angin di lapisan atmosfer yang berbeda. Partikel halus PM2.5 bisa terangkat hingga ratusan bahkan ribuan meter akibat turbulensi dan konveksi, sehingga arah pergerakannya berbeda dari angin di permukaan ketinggian tertentu.
Selain itu, perubahan pola angin regional dapat membawa asap dari wilayah kebakaran menuju Laut Jawa hingga Jakarta, menempuh jarak ratusan kilometer.
“Gangguan atmosfer, daerah tekanan rendah, sirkulasi siklonik, dan periode peralihan monsun dapat mengubah pola angin sementara,” sebutnya.
Ia menyebut asap karhutla dapat menyebar hingga jauh dari sumbernya, tetapi konsentrasinya bisa berubah selama perjalanan akibat pengenceran, pencampuran, reaksi kimia, dan pengendapan.
Karena itu, asap yang mencapai Jakarta belum tentu menyebabkan pencemaran udara berat. Dampaknya bergantung pada emisi, arah dan kecepatan angin, curah hujan, serta kondisi atmosfer.
Baca Juga: Malaysia Desak ASEAN Tindak Tegas Indonesia Terkait Asap Karhutla Lintas Negara!
Sebelumnya, Sekretaris Utama BMKG Guswanto menyatakan asap yang terpantau memasuki Jakarta, Banten, dan Jawa Barat berasal dari karhutla di Kalimantan.
Fenomena tersebut baru terdeteksi di wilayah Jakarta pada Jum’at siang. Meski masih terpantau di lapisan atmosfer, masyarakat diimbau tetap memantau tingkat konsentrasi kualitas udara.
“Jadi, dari gambar (citra satelit) tersebut kita melihat arah pergerakan asap di Jawa itu bergerak ke arah tenggara hingga barat, sehingga perlu dipantau terus, apakah konsentrasi yang di Jakarta ini benar-benar meningkat di permukaan, atau hanya melintas di lapisan atmosfer atas,” ujar Guswanto.
(Republika)












