Jakarta, mu4.co.id – Kegiatan nonton bareng (Nobar) film dokumenter berjudul ‘Pesta Babi’ di sejumlah daerah dibubarkan secara paksa oleh TNI hingga pihak universitas, diantaranya yaitu di Universitas Mataram (Unram), Nusa Tenggara Barat dan di Ternate Tengah, Maluku Utara.
Peristiwa pembubaran pertama dilakukan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unram, Sujita bersama puluhan satpam kampus, pada Kamis (07/05/2026) sekitar pukul 18.55 WITA.
Film karya Dandhy Laksono itu sendiri menyoroti hilangnya hutan di Papua usai dikonversi menjadi perkebunan industri dengan mengatasnamakan ketahanan pangan dan transisi energi. Film ini juga merekam perjuangan masyarakat Papua dalam mempertahankan tanah leluhur mereka.
Sujita beralasan film dokumenter yang mengupas dampak deforestasi hingga perampasan tanah adat di Papua itu tidak layak ditonton. Ia lantas meminta para mahasiswa untuk membatalkan pemutaran film itu. “Film ini saya kira kurang baik untuk ditonton,” ujarnya, Jumat (08/05/2026).
Sujita menyebut bahwa pembubaran nobar film ‘Pesta Babi’ itu dilakukan atas perintah Rektor Unram, Sukardi. Ia lantas menyarankan mahasiswa untuk menonton pertandingan sepakbola atau film lainnya.
Baca juga: Film Jembatan Shiratal Mustaqim Terancam Setop Tayang, Kenapa?
Sementara itu, di Ternate Tengah, Dandim 1501 Ternate, Letkol Inf Jani Setiadi memimpin pembubaran aksi nobar yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate bersama Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) Maluku Utara di Pendopo Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah, pada Jumat (08/05/2026) pukul 20.00 WIT.
Jani beralasan materi film yang ditayangkan dinilai mendapat banyak penolakan lantaran bersifat provokatif. Ia mengklaim penilaian negatif terhadap isi film datang dari masyarakat dan bukan dari asumsi TNI. Ia meminta kegiatan nobar tersebut tidak dilanjutkan, mengingat isu SARA di Maluku Utara sangat sensitif dan mudah dipolitisasi.
“Ini bukan pendapat pribadi saya. Tapi jika tidak percaya, akan saya tunjukkan, banyak yang sifat provokatif menurut masyarakat, menurut di media sosial,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate, Yunita Kaunar mengecam tindakan aparat tersebut. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari kebebasan berekspresi serta hak warga untuk memperoleh informasi sebagaimana dijamin konstitusi.
“Ini bukan sekadar pembubaran nobar film, tapi bentuk nyata intimidasi terhadap ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi warga. Aparat tidak seharusnya menjadi pihak yang menentukan karya apa yang boleh atau tidak boleh ditonton masyarakat,” tegasnya.
Baca juga: Ramai Gerakan Solidaritas All Eyes On Papua, Ini Yang Terjadi!
Hal serupa juga disampaikan oleh Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin. Ia mengkritik pembubaran kegiatan nobar film dokumenter Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara, yang dilakukan oleh TNI. Ia menilai tindakan tersebut berpotensi melanggar konstitusi serta melampaui tugas pokok dan fungsi TNI. Ia mengatakan hingga saat ini tidak ada putusan atau bukti berkekuatan hukum yang menyatakan film tersebut melanggar peraturan perundang-undangan.
“Pembubaran yang dilakukan Dandim 1501 berpotensi melanggar konstitusi dan tupoksi TNI. Dalam negara demokrasi, ruang diskusi dan penyampaian informasi harus dilindungi selama tidak terbukti melanggar hukum,” ujarnya, Senin (11/05/2026).
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai menambahkan bahwa pelarangan pemutaran maupun nobar film tidak dapat dilakukan secara sepihak tanpa dasar hukum dan keputusan pengadilan. Menurutnya pembatasan terhadap karya film hanya dapat dilakukan melalui mekanisme hukum yang diatur dalam perundang-undangan. Oleh karena itu, pihak yang tidak memiliki kewenangan hukum tidak dibenarkan melakukan pelarangan terhadap pemutaran film di ruang publik.
“Film itu hanya boleh dilarang menurut keputusan pengadilan, menurut undang-undang,” kata Pigai.
(cnnindonesia.com)














