Yaman, mu4.co.id – The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan kelompok Houthi di Yaman meminta kompensasi sebesar USD51 miliar atau sekitar Rp921,5 triliun dari Arab Saudi sebagai syarat perdamaian. Selain itu, mereka juga meminta pengakuan sebagai otoritas sah Yaman.
Laporan yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui perundingan kedua pihak itu menyebutkan beberapa opsi kompensasi lain turut dibahas. Namun, nilai kesepakatan diperkirakan tetap mencapai puluhan miliar dolar AS.
Perundingan Arab Saudi dan Houthi menghadapi hambatan finansial dan politik. Namun, jurnalis yang berpihak kepada Houthi, Hussain Albukhaiti, membantah laporan WSJ terkait tuntutan kompensasi USD51 miliar serta permintaan pengakuan dari Arab Saudi.
Albukhaiti menyebut kepada The New Arab pada Jum’at (6/11), bahwa laporan tersebut keliru dan menuding Arab Saudi sengaja menyebarkan informasi untuk menggambarkan Houthi sebagai kelompok yang mengejar keuntungan finansial.
Baca Juga: Houthi Diklaim Targetkan Makkah dan Madinah, Istana Kepresidenan Yaman Juga Diserang!
Ia menegaskan, otoritas di Sanaa, Yaman, telah menuntut kompensasi atas kerugian perang dari koalisi pimpinan Arab Saudi, baik secara langsung maupun melalui PBB dan mediator lainnya. Kerugian ekonomi Yaman akibat perang disebut mencapai USD1,13 triliun atau sekitar Rp20.418 triliun.
Angka kerugian tersebut mencakup kerusakan ekonomi dan infrastruktur, tetapi belum termasuk kompensasi bagi korban tewas, luka-luka, maupun kerusakan rumah pribadi. Menurutnya, pembayaran untuk kategori korban akan diproses secara terpisah dan tidak dapat dinegosiasikan.
“Masih mungkin ada fleksibilitas mengenai mekanisme pembayaran, seperti pembayaran tahunan atau cicilan yang dibagi selama beberapa tahun, tetapi tidak dalam jangka waktu yang terlalu panjang,” ucap Albukhaiti dikutip dari SindoNews, Sabtu (7/11).
Klaim kerusakan rumah juga harus disertai dokumen resmi dengan pembayaran melalui program rekonstruksi setelah kesepakatan dengan Arab Saudi tercapai.
(SindoNews)













