Jakarta, mu4.co.id — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bersama Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) resmi menjajaki kerja sama untuk menginisiasi pembangunan Museum Haji Indonesia. Kolaborasi strategis ini digagas demi melestarikan sejarah panjang perjalanan ibadah haji, sekaligus menyoroti kontribusi besar ulama, santri, dan tokoh-tokoh pergerakan nasional dalam membangun kesadaran kebangsaan serta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Rencana tersebut dibahas langsung oleh Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak saat bertemu dengan Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon di Kantor Kementerian Kebudayaan pada Kamis (22/10/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Dahnil menegaskan bahwa catatan perjalanan haji masyarakat Indonesia menyimpan nilai intelektual dan sosial yang luar biasa bagi sejarah bangsa, sehingga sangat krusial untuk diwariskan kepada generasi penerus.
“Sejarah haji Indonesia bukan semata-mata tentang perjalanan ibadah ke Tanah Suci. Di dalamnya terdapat jejak perjuangan, pertukaran ilmu, dan kontribusi ulama serta santri dalam membangun kesadaran kebangsaan. Melalui kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, kami ingin menjajaki upaya merawat warisan sejarah ini agar dapat dipelajari oleh masyarakat luas,” ujarnya.
Melalui museum ini, publik diharapkan dapat memperoleh ruang edukasi yang interaktif untuk memahami bagaimana ibadah haji berkaitan erat dengan perjalanan pembentukan Indonesia.
“Dengan demikian, nilai-nilai perjuangan dan pengabdian para pendahulu dapat terus diwariskan,” kata Wamenhaj dikutip dari Amphuri.org, Kamis (29/10/2026).
Museum Haji Indonesia dirancang sebagai ruang publik yang bakal menghimpun berbagai arsip, foto historis, dokumen perjalanan, hingga artefak berharga yang merekam jejak perkembangan penyelenggaraan haji dan dinamika kehidupan umat Islam dari masa ke masa. Bahkan, langkah ini membuka peluang penelusuran dokumen serta artefak perhajian yang saat ini masih tersimpan di berbagai lembaga luar negeri, termasuk museum dan arsip di Belanda.
Sederet tokoh besar bangsa yang memuat gelar haji di ranah pergerakan—seperti Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Haji Ahmad Dahlan, Haji Hasyim Asy’ari, Haji Agus Salim, hingga Haji Samanhudi—turut menjadi pilar utama dalam narasi sejarah pendidikan, kebangsaan, dan pembaruan sosial keagamaan yang akan diangkat.
“Lebih dari sekadar tempat penyimpanan benda bersejarah, Museum Haji Indonesia berpotensi menjadi pusat edukasi, penelitian, dan literasi sejarah yang terbuka bagi masyarakat,” ujarnya.
Inisiasi ini diharapkan menjadi awal yang solid untuk memperkuat sinergi interkementerian dalam menjaga warisan sejarah nasional sekaligus membuka akses literasi sejarah perhajian seluas-luasnya bagi masyarakat umum.













