Media Utama Terpercaya

6 Agustus 2026, 10:56
Search

Banyak Anak yang Dirawat Akhirnya Meninggal, Pria Muslim Libya Ini Tebarkan Citra Positif Muslim di AS. Kenapa?

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Mohamed Bzeek
Mohamed Bzeek. [Foto: WBUR]

AS, mu4.co.id – Sejak 1989, Mohamed Bzeek (72), seorang imigran Muslim asal Libya yang kini menetap di California, Amerika Serikat, telah mendedikasikan hidupnya untuk merawat anak-anak telantar dengan kondisi medis terminal atau penyakit parah. Ia terus menjalani pengabdian tersebut dengan penuh ketulusan dan tanpa mengharapkan imbalan. 

Bzeek menilai kisah kemanusiaannya turut membantu mengubah pandangan negatif terhadap umat Islam di Amerika Serikat. Menurutnya, Muslim selama ini kerap dicap sebagai pelaku kekerasan, penjahat, bahkan identik dengan kehancuran, sehingga Islam dipersepsikan secara keliru oleh sebagian masyarakat.

“Kisah saya mengubah cara orang Amerika berpikir tentang Muslim. Tapi setelah (mendengar) cerita saya, saya menunjukkan kepada mereka Islam yang sebenarnya. Islam adalah tentang cinta, kasih sayang, dan simpati terhadap orang lain,” ujar Bzeek pada Anadolu Agency, dikutip dari Republika, Kamis (6/8).

Baca Juga: Anies Baswedan Jadi Relawan di Yordania Bagikan Bantuan Kemanusiaan Untuk Palestina

Kisah Mohamed Bzeek mendapat perhatian luas setelah diwawancarai Los Angeles Times beberapa tahun yang lalu terkait ia yang telah merawat lebih dari 80 anak dengan penyakit parah di AS, di mana 10 diantaranya meninggal dunia dalam pelukannya. 

Beberapa bayi bahkan tidak memiliki nama sehingga ia memberi mereka nama-nama muslim dan membesarkan mereka sesuai ajaran Islam. 

“Saya membesarkan mereka sebagai Muslim,” tuturnya.

Menurut Bzeek, anak-anak tersebut sering terabaikan dalam sistem pengasuhan dan jarang merasakan kasih sayang. Oleh karena itu, ia memilih membuka rumahnya sebagai tempat penuh cinta bagi mereka. Ia juga dikenal sebagai satu-satunya orang tua asuh di wilayahnya, Azusa, California, yang bersedia merawat anak-anak dengan kondisi medis paling parah.

Awalnya, Bzeek pindah dari Libya ke California pada 1978 sebagai mahasiswa internasional. Beberapa tahun kemudian, ia bertemu Dawn, seorang ibu asuh yang telah merawat anak-anak sejak 1980. 

Pertemuan itu menjadi awal ketertarikan Bzeek pada dunia pengasuhan, hingga keduanya kemudian menikah pada 1989 dan mendedikasikan hidup untuk merawat anak-anak terlantar, terutama yang mengidap penyakit parah.

Mohamed Bzeek dengan anak-anak asuhnya. [Foto: Reddit, Indozone]

Pasangan itu juga aktif mengedukasi masyarakat melalui pelatihan pengasuhan anak dan penanganan penyakit serta kematian pada anak. 

Istrinya, Dawn, bahkan bekerja sama dengan dokter dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan sistem pengasuhan, hingga dikenal sebagai salah satu ibu angkat paling dihormati di California.

Kehilangan anak asuh pertama pada 1991 menjadi pengalaman yang semakin menguatkan tekad mereka. Sejak 1995, Bzeek dan Dawn memilih fokus mengasuh anak-anak dengan penyakit terminal yang umumnya tidak diterima keluarga asuh lain. 

Bagi Bzeek, agama, kebangsaan, maupun warna kulit bukanlah pembeda. Ia mengaku selalu memperlakukan setiap anak asuh layaknya anak kandungnya sendiri.

“Kuncinya adalah Anda harus mencintai mereka seperti milik Anda. Saya tahu mereka sakit. Saya tahu mereka akan mati. Saya melakukan yang terbaik sebagai manusia dan menyerahkan sisanya kepada Tuhan,” tutur Bzeek.

Baca Juga: Jalankan Misi Kemanusiaan di Gaza, Dokter Alumnus Kampus Indonesia Ini Gugur

Menurutnya, merawat anak-anak dengan penyakit terminal bukan hal mudah karena mereka membutuhkan banyak obat-obatan dan alat bantu medis. Meski demikian, ia tetap menjalankan pengabdiannya dengan penuh ketulusan. 

Ia kemudian mengenang ucapan seorang pria ateis di AS yang berkata berharap Tuhan benar-benar ada agar dapat membalas seluruh kebaikan yang telah ia lakukan

Sementara itu, dedikasi Bzeek mendapat pengakuan internasional dengan menerima penghargaan Tokoh Pilihan Los Angeles Times (2017) dan International Kindness Award (2017) yang diserahkan langsung oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan

Dalam kesempatan itu, Erdoğan menyebut kisah Bzeek sebagai secercah harapan di tengah maraknya kekerasan di dunia. Perjalanan hidupnya juga menginspirasi seorang sineas Turki untuk mengangkatnya dalam sebuah film dokumenter.

(Republika, Wikipedia)

[post-views]
Selaras