Bahrain, mu4.co.id – Bahrain dan Kuwait dilaporkan melancarkan serangan udara ke Iran sebagai balasan atas serangan yang sebelumnya menargetkan wilayah mereka.
Menurut laporan The Wall Street Journal, operasi tersebut menyasar depot drone dan rudal Iran dengan dukungan intelijen serta perlindungan udara dari Uni Emirat Arab (UEA). Jika hal itu dikonfirmasi, keterlibatan Bahrain dan Kuwait menandai meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari Sindo News pada Ahad (26/7), Kuwait dan Bahrain sendiri dinilai menjadi negara Teluk yang paling rentan karena letak geografisnya serta ketergantungan besar pada Selat Hormuz untuk ekspor minyak.
Menurut pejabat regional, Iran sebelumnya telah melancarkan serangan ke sejumlah infrastruktur vital di Kuwait, termasuk pembangkit listrik, fasilitas desalinasi air dan pangkalan AS di Kuwait.
Meski berpotensi meningkatkan risiko krisis kemanusiaan jika serangan meluas, pengamat menilai keterlibatan militer Kuwait dan Bahrain belum akan mengubah jalannya konflik secara signifikan.
Gencatan senjata yang diperpanjang sejak Juni dilaporkan kembali runtuh setelah Iran menyerang negara-negara Teluk dan kapal-kapal di Selat Hormuz.
Arab Saudi yang sempat mendukung serangan AS akhirnya beralih mendorong upaya mediasi, sementara UEA tetap mengambil peran militer aktif dengan melancarkan puluhan serangan ke Iran.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan “serangan besar-besaran”, dan militer AS mengonfirmasi operasi terhadap Iran telah berlangsung selama 13 malam berturut-turut.
(Sindo News)














