Banjarmasin, mu4.co.id – Di era sekarang ini di mana Spotify, YouTube, dan berbagai platform streaming digital mendominasi gawai kita, nasib media konvensional sering kali dipertanyakan. Radio, salah satu media massa tertua di Indonesia, kerap dianggap sedang berjalan menuju kepunahannya.
Satu-persatu radio dengan berat hati mengumumkan siaran terakhirnya di udara. Namun, apakah radio benar-benar akan sirna di muka bumi? atau ia hanya sedang menyaring audiensnya menjadi lebih tersegmentasi dan loyal?
Dilansir dari data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, Jum’at (19/6/2026) memberikan gambaran yang menarik sekaligus menantang bagi industri penyiaran tanah air.
Tak bisa dimungkiri, penetrasi internet telah mengubah lanskap konsumsi media. Jika menengok ke belakang, sebelum pandemi Covid-19 melanda atau tepatnya pada tahun 2018, data membuktikan bahwa persentase penduduk Indonesia berusia 5 tahun ke atas yang mendengarkan radio hanya tersisa 12,73%. Angka ini merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, data BPS 2025 menunjukkan adanya anomali yang menarik:
| Tahun | Persentase Pendengar Radio (Usia 5+ Tahun) |
| 2018 | 12,73% |
| 2024 | 8,67% |
| 2025 | 9,48% |
Meski belum bisa menyamai masa kejayaannya sebelum pandemi, angka 9,48% di tahun 2025 menunjukkan adanya sedikit gairah baru atau kenaikan tipis dibanding tahun sebelumnya. Ini membuktikan bahwa radio tidak sepenuhnya ditinggalkan. Masih ada secercah harapan dari sisa-sisa segelintir pendengar fanatik yang tetap setia mendengarkan radio dan tak ingin bergeming oleh perubahan zaman.
Radio Menjadi Ruang Nostalgia Kelompok Usia Lanjut
Salah satu temuan paling konsisten dari data BPS adalah bagaimana radio bertransformasi menjadi media yang lekat dengan kelompok usia senior. Semakin tua usia seseorang, kecenderungan mereka untuk mendengarkan radio justru semakin besar.
Kelompok usia 60 tahun ke atas mencatatkan persentase pendengar tertinggi, yaitu mencapai 14,65% dibandingkan kelompok umur lainnya.
Mengapa demikian? Bagi generasi lansia, radio bukan sekadar alat pencari informasi, melainkan media nostalgia, sarana “memories remain” teman pengisi kesepian, dan sarana hiburan yang praktis tanpa perlu repot memahami install aplikasi digital yang rumit.
Kehilangan Kuantitas, Memenangkan Loyalitas
Meskipun secara jumlah total (kuantitas) pendengar radio menyusut, namun industri ini berhasil mempertahankan sesuatu yang sangat berharga di era sekarang ini: loyalitas (kualitas).
Dari total penduduk yang masih mendengarkan radio saat ini, sebanyak 37,01% di antaranya mengaku mendengarkan siaran radio hampir setiap hari (6-7 hari dalam sepekan).
Fakta ini mengindikasikan sebuah fenomena penting:
• Radio mungkin kehilangan pendengar kasual (casual listeners) yang telah beralih ke platform lain. Saat gempuran teknologi sudah sedemikian masifnya, radio tetap memberikan kemudahan dan simple untuk dinikmati. Ia tak perlu download atau aplikasi yang ribet, cukup perangkat radio analog. Bahkan sekarang ini, radio juga bisa didengarkan melalui ponsel di dalam genggaman.
• Radio juga berhasil mempertahankan inti dari audiensnya (die-hard fans) yang menjadikan radio sebagai bagian dari ritual harian mereka yang tak mudah dilepaskan. Mereka tetap bisa mendengarkan radio dimana saja dan kapan saja, di dalam mobil, di perjalanan menuju kantor, di ruang kerja, di tempat usaha, di pasar, di kamar tidur, hingga di dapur. Bahkan di saat sedang mengerjakan aktivitas lain pun, siaran radio tetap bisa didengarkan dan dinikmati dengan mudah. Berbeda dengan media lain seperti televisi atau media cetak yang membutuhkan konsentrasi dan fokus saat menikmatinya.
Anggapan Keliru: Pendengar Radio Bukan Lagi Milik “Kalangan Bawah”
Ada stereotip lama yang menganggap bahwa radio saat ini hanya didengarkan oleh masyarakat di daerah pelosok atau kelompok ekonomi bawah yang minim akses internet. Data BPS mematahkan asumsi tersebut.
Nyatanya, pendengar radio di Indonesia saat ini justru didominasi oleh tamatan pendidikan tinggi dan kelompok masyarakat mapan.
Bagi kelompok yang mapan secara ekonomi dan berpendidikan tinggi, radio sering kali menjadi teman setia saat terjebak kemacetan di dalam mobil, radio menjadi sarana mendengarkan kajian agama dan pencerahan spiritual di tengah aktivitas kesibukan sehari-hari, atau sebagai sumber berita terpercaya yang dikurasi oleh jurnalis profesional di tengah kepungan hoaks media sosial.
Pada kenyataannya, radio di Indonesia tidak sedang mati suri; ia sedang berevolusi. Kehilangan audiens massal adalah konsekuensi logis dari disrupsi teknologi, namun radio memiliki senjata yang tidak dimiliki algoritma streaming yakni sentuhan manusia (human touch) dan loyalitas.
Radio tetap menjadi sahabat setia bagi pendengarnya di segala zaman. Inilah alasan mengapa kelompok mapan, lansia, dan para pendengar fanatik ini menolak untuk memutar tombol off pada radio mereka.














