Mekkah, mu4.co.id – Sangkala (72), seorang jemaah haji pria Kloter 20 Embarkasi Makassar asal Kabupaten Maros, meninggal dunia di Makkah, Arab Saudi saat menunaikan ibadah haji, pada 6 Juni 2026.
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Mochamad Irfan Yusuf alias Gus Irfan pun menyempatkan takziah ke rumah duka yang berada di Desa Bori Kamase, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Ahad (14/06/2026).
“Kehadiran pemerintah di tengah keluarga jemaah yang meninggal dunia menjadi bentuk penghormatan sekaligus tanggung jawab moral negara kepada para tamu Allah yang wafat saat menjalankan ibadah haji,” ujar Gus Irfan dalam keterangannya.
Dibalik kepergiannya, ada cerita pedih lainnya, yakni sang istri, Nuriah, ternyata telah meninggal dunia lebih dulu di Maros sekitar 26 hari sebelum Sangkala wafat. Namun kabar duka tersebut sengaja dirahasiakan keluarga agar tidak memengaruhi kondisi kesehatan almarhum selama berada di Tanah Suci.
Basri, anak almarhum mengatakan keputusan itu diambil setelah keluarga mempertimbangkan kondisi kesehatan ayahnya yang memiliki riwayat gangguan paru-paru. “Iya, diceritakan. Dia tidak tahu kalau istrinya meninggal. Kami takut kondisinya drop kalau diberi tahu,” ujar Basri, Ahad (14/06/2026).
Baca juga: Dua Jemaah Haji Embarkasi Surabaya Wafat Saat Perjalanan Pulang ke Indonesia. Diduga Karena Hal Ini!
Kepergian sang ayah pukulan menjadi berat bagi keluarga. Menurut Basri, ayahnya berangkat ke tanah suci dalam kondisi yang cukup baik. Meski memiliki riwayat sakit paru-paru. Ia juga mengaku komunikasi terakhir dengan ayahnya berlangsung pada malam sebelum almarhum meninggal dunia, dan pada saat itu, Sangkala terdengar ceria dan tanpa tanda-tanda yang mencurigakan sebelumnya. “Tidak ada tanda-tanda yang sama sekali,” ungkapnya.
Kabar kematian Sangkala sendiri diterima keluarga dari kerabat yang berada di Arab Saudi. Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, sebelum wafat Sangkala masih sempat melaksanakan salat Zuhur seperti biasa. Oleh karena itu, keluarga sangat terkejut ketika menerima kabar duka dari tanah suci.
Ibadah haji sendiri merupakan mimpi yang telah lama diperjuangkannya. Sangkala mendaftar haji sejak 2014 dan harus menunggu hingga akhirnya mendapat kesempatan berangkat pada musim haji 2026. Sebelumnya, ia juga sempat menunaikan ibadah umrah pada tahun 2025. Sebagai seorang petani, Sangkala menabung sedikit demi sedikit demi mewujudkan cita-citanya dengan menginjakkan kaki di tanah suci.
Di mata keluarga dan masyarakat sekitar, Sangkala dikenal sebagai sosok pekerja keras, penyayang keluarga, dan memiliki semangat ibadah yang tinggi. Ia meninggalkan lima orang anak serta belasan cucu. Meski kepergiannya menyisakan duka mendalam, keluarga mengaku ikhlas dan meyakini bahwa almarhum wafat dalam keadaan mulia saat menjalankan ibadah haji.
(matamaros.com)















