Media Utama Terpercaya

23 April 2026, 00:20
Search

Cadangan Gas Jumbo Ditemukan di Kaltim, Bahlil: Bisa Kurangi Impor!

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Cadangan Gas Jumbo Ditemukan di Kaltim
Cadangan Gas Jumbo Ditemukan di Kaltim [Foto: Ilustrasi mu4.co.id]

Jakarta, mu4.co.id – Sumber energi gas baru baru-baru ini ditemukan di Kalimantan Timur, berasal dari dua Blok yakni Geliga dan Gula yang dikelola oleh perusahaan migas asal Italia, Eni, dengan total potensi cadangan 7 triliun kaki kubik (Tcf).

“Saya mengumumkan bahwa Eni baru mendapatkan satu wilayah kerja baru Gas Jumbo dari Blok Geliga yang menghasilkan 5 Tcf untuk gas dan kita mendapat kondensat sekitar 300jt barel minyak equivalent,” kata Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, Senin (20/04/2026).

Dengan temuan tersebut Bahlil mengungkapkan pada 2028 Eni akan memaksimalkan potensi hingga 2000 MMSCFS untuk gas, dan meningkat pada 2030 menjadi 3000 MMSCF, yang mana saat ini produksinya masih di kisaran 600-700 MMSCFS.

Selain itu, Bahlil juga mengungkapkan Indonesia akan memproduksi 90 ribu barel kondensat mulai 2028, dan ditargetkan jumlah produksinya terus bertambah menjadi150 ribu barel pada 2029 hingga 2030.

“Ini adalah strategi bagaimana gas kita tidak kita lakukan impor dari negara manapun, kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri,” jelasnya.

Baca juga: Viral Kapal Pertamina Dipenuhi ABK India, Begini Penjelasan Pertamina!

Lebih lanjut, Bahlil mengatakan pemanfaatan gas akan didorong untuk penggunaan industri hilirisasi, yang akan mengurangi impor crude oil dengan penambahan kondensat 90 ribu -150 ribu barel pada 2030.

Diketahui sebelumnya, Indonesia juga telah menemukan Blok Gula yang menghasilkan gas sekitar 2 Tcf dan 75 juta barel kondensat. “Jadi totalnya, untuk gas dari 2 blok Geliga dan Gula menghasilkan 7 Tcf yang akan mulai berproduksi pada 2028 dan 3,750 juta barel kondensat. Ini baru satu, kita belum bicara Blok Masela dan blok lainnya,” sebutnya.

Di samping itu, Bahlil juga menyorot ketegangan di Timur Tengah, hingga penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada dinamika ketahanan energi setiap negara. Yang mana, konsumsi Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari (bph), sedangkan lifting baru 605 ribu bph di 2025. Pihaknya berharap di tahun 2026 jumlahnya meningkat menjadi 610 ribu bph. Sementara target Presiden Prabowo di 2030, Indonesia harus bisa memproduksi 900 ribu bph hingga 1 juta bph.

“Dengan demikian, maka menuju swasembada energi harus memenuhi stok kebutuhan dengan memanfaatkan cadangan-cadangan di RI,” ungkapnya.
(cnnindonesia.com)

[post-views]
Selaras