Washington, mu4.co.id – Amerika Serikat (AS) telah kehilangan sekitar USD6 miliar (lebih dari Rp102 triliun) dalam pekan pertama perang bersama Israel melawan Iran.
Hal tersebut dipaparkan pejabat Pentagon kepada Kongres Amerika. Selama diskusi di Kongres, para pejabat pertahanan senior juga mengindikasikan bahwa pendanaan lebih lanjut akan diperlukan untuk mempertahankan operasi militer dan mengisi kembali persediaan amunisi yang menipis.
Berdasarkan laporan New York Times, Senin (09/03/2026), sekitar US$4 miliar (Rp67,6 triliun) dari total biaya tersebut dihabiskan khusus untuk penggunaan amunisi presisi dan sistem pencegat rudal canggih.
Baca juga: Dampak Konflik AS–Israel dan Iran, Harga Tiket Pesawat Jeddah–Jakarta Melonjak Naik!
Menurut laporan surat kabar Amerika itu juga, militer AS tercatat telah menghantam lebih dari 4.000 target di wilayah Iran, termasuk fasilitas nuklir, markas militer, dan peluncur rudal balistik sejak operasi dimulai pada 28 Februari 2026.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengindikasikan bahwa operasi ini kemungkinan besar akan berlangsung selama beberapa pekan ke depan, yang memicu kekhawatiran di kalangan anggota Kongres mengenai pengisian kembali (replenishment) stok persenjataan AS yang mulai menipis, terutama rudal pencegat tipe Patriot dan THAAD yang digunakan untuk menangkis serangan balasan Iran.
Pengeluaran yang cepat itupun menarik perhatian dari kedua kubu politik. Para kritikus berpendapat bahwa pencegat rudal yang mahal, beberapa di antaranya bernilai jutaan dolar, dikonsumsi dengan kecepatan yang dapat membebani basis industri pertahanan AS dan menyebabkan kekurangan di teater strategis lainnya.
(sindonews.com, mediaindonesia.com)









![Ilustrasi daur ulang kain-kain perca limbah industri garmen [pakaian]](https://mu4.co.id/wp-content/uploads/2026/03/IMG_7128-300x180.webp)




