Makkah, mu4.co.id – Setiap tahunnya, jutaan pasang mata umat Muslim tertuju pada bangunan kiblat shalat di Masjidil Haram, Makkah. Namun, tahukah Anda bahwa di balik dinding Ka’bah yang kokoh, terdapat sebuah ritual perawatan spiritual yang sangat monumental dan sarat sejarah? Ritual itu disebut Ghusl Ka’bah.
Ghusl Ka’bah adalah tradisi sakral mencuci bagian dalam Ka’bah setahun sekali menggunakan campuran air suci dan wewangian premium. Mari kita ulas lebih dalam mengenai ritual, sejarah, hingga eksistensinya di zaman modern saat ini.
Apa itu Ghusl Ka’bah dan Bagaimana Prosesinya?
Secara harfiah, Ghusl berarti mandi atau mensucikan. Dalam konteks ini, Ghusl Ka’bah adalah prosesi pembersihan total bagian dalam Ka’bah. Ritual ini bukan sekadar bersih-bersih biasa, melainkan sebuah upacara penghormatan tingkat tinggi yang melibatkan bahan-bahan terbaik di dunia.
Baca juga: Sambut 1 Muharram 1448 H, Begini Prosesi Sakral Pergantian Kiswah Ka’bah
Ritual ini dilakukan setahun sekali pada 15 Muharram, biasanya dimulai tepat setelah salat Subuh. Pencucian Ka’bah menggunakan sekitar 40 liter Air Zamzam murni yang ditampung dalam wadah perak khusus dicampur dengan ratusan liter air mawar Thaif, minyak mawar, minyak Oud (gaharu), serta musk (kasturi) murni untuk memberikan aroma harum.
Para petugas dan tokoh yang ditunjuk akan mencelupkan kain putih bersih ke dalam campuran air wangi tersebut. Kain ini digunakan untuk menyapu dan mencuci dinding bagian dalam Ka’bah. Setelah selesai dicuci, dinding dikeringkan secara hati-hati lalu kembali diberi wewangian minyak Oud yang semerbak.
Sejarah di Balik Tradisi Ghusl Ka’bah
Tradisi luhur ini tidak lahir begitu saja, melainkan memiliki akar sejarah yang sangat kuat sejak masa awal Islam.
Dilansir dari madaninews.id, Selasa (30/6) menyebutkan tradisi ini berawal dari peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah) pada tahun 8 Hijriah/ 630 Masehi yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Saat kembali ke Makkah setelah bertahun-tahun hijrah, Rasulullah mendapati bagian dalam Ka’bah telah dinodai oleh berhala, patung, dan gambar-gambar paganisme hasil perbuatan kaum kafir Quraisy.
Baca juga: Inilah Foto Ka’bah yang Pertama Kali Diabadikan 1,5 Abad Lalu
Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam segera memerintahkan para sahabat untuk menghancurkan seluruh berhala tersebut. Setelah bersih dari simbol syirik, Rasulullah kemudian meminta diambilkan air Zamzam. Beliau menggunakannya untuk membersihkan dan menyucikan seluruh dinding bagian dalam Ka’bah dari noda serta sisa-sisa gambar pagan. Langkah historis inilah yang menjadi titik awal disyariatkannya Ghusl Ka’bah.
Setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, tradisi ini diteruskan oleh para Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) demi menjaga kehormatan kiblat. Estafet ini kemudian dijaga oleh dinasti-dinasti Islam lintas generasi dari masa ke masa.
Hingga kini, di era modern, tradisi ini tidak memudar, justru dikemas dengan protokol kenegaraan yang sangat khidmat.
Prosesi ini biasanya dipimpin oleh Raja Arab Saudi atau yang mewakilinya (seperti Gubernur Wilayah Makkah), didampingi oleh para ulama, pejabat tinggi negara, serta tamu undangan dari korps diplomatik negara-negara Muslim di seluruh dunia. Ritual modern ini menjadi simbol bahwa pelayan dua kota suci (Khadimul Haramain) tetap memegang teguh amanah Rasulullah SAW dalam menjaga kesucian Ka’bah.
Video: Noorway.in















