Media Berkemajuan

29 Februari 2024, 06:21

Tinggalkan Dollar AS, China-India-Rusia Buat Mata Uang Baru

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Para pemimpin negara BRICS [Foto: kompas.com]

Moskwa, mu4.co.id – Negara-negara yang tergabung dalam BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) akan mengganti dollar dengan menciptakan mata uang baru sebagai strategi pembayaran.

Dikutip dari Live Mint, rencana mata uang baru BRICS ini disampaikan oleh anggota parlemen Rusia Alexander Babakov.

Menurut Babakov, rencana ini hadir agar strategi pembayaran tidak bergantung dengan dollar AS atau euro.

Dia menyebutkan bahwa mata uang baru akan didasarkan pada emas dan komoditas lain seperti elemen tanah jarang.

Namun, Babakov tidak merinci detail lain terkait mata uang baru negara BRICS tersebut.

Selanjutnya, pembahasan tentang mata uang baru paling cepat akan berlangsung pada KTT BRICS di Afrika Selatan pada Agustus tahun ini seperti dilansir dari Firstpost.

Dari beberapa sumber mengatakan bahwa ide mengenai mata uang baru BRICS diinisiasi oleh Rusia karena negara tersebut menghadapi sanksi ekonomi yang berat dari Barat atas invasi ke Ukraina.

Rencana penggunaan mata uang lain di BRICS telah tercetus sejak 2009. Pada pertemuan Juni 2009, pemimpin negara anggota ingin menambah “pengaruh” di ekonomi dunia,

Namun hingga kini, implementasi mata uang BRICS belum terealisasi. Tetapi sanksi Barat yang diberikan ke Rusia membuat Moskwa mencetuskan lagi hal ini di 2023.

Adanya mata uang baru ini akan memberikan manfaat paling banyak di negara Rusia dan India.

“New Delhi, Moskwa harus melembagakan asosiasi ekonomi baru dengan mata uang bersama yang baru, yang bisa berupa rubel digital atau rupee India,” kata Babakov.

Selain itu, China juga akan berperan penting dalam pengembangan mata uang baru karena memiliki 1,4 miliar dari populasi.

“New Delhi, Beijing, dan Moskwa adalah negara-negara yang sekarang melembagakan dunia multipolar yang didukung oleh mayoritas pemerintah,” katanya.

“Komposisinya harus didasarkan pada induksi ikatan moneter baru yang ditetapkan pada strategi yang tidak membela dolar AS atau euro, melainkan membentuk mata uang baru yang kompeten untuk menguntungkan tujuan bersama kita,” ungkap Babakov.

Sumber: cnbcindonesia.com dan batam.tribunnews.com

[post-views]
Selaras
error: Content is protected !!