Media Utama Terpercaya

12 Maret 2026, 18:09
Search

Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS
Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS [Foto: Ilustrasi mu4.co.id]

Jakarta, mu4.co.id – Nilai tukar rupiah melemah tajam hingga menembus level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Hal itu dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik yang muncul secara bersamaan.

Ekonom Maybank, Myrdal Gunarto, menilai pelemahan rupiah saat ini terutama dipicu oleh faktor eksternal yang berasal dari konflik geopolitik dan potensi gangguan rantai pasok energi global. Menurutnya pasar khawatir terhadap potensi terganggunya pasokan minyak dunia. Kekhawatiran tersebut mendorong lonjakan harga minyak hingga menembus lebih dari USD 113 per barel.

“Kalau saya lihat sih ini memang murni dari tekanan global, terutama dampak perang yang luas. Lalu diikuti dengan kekhawatiran adanya gangguan supply atau supply chain shock. Jadi ada kekhawatiran yang namanya supply chain shock untuk komoditas minyak. Sehingga kita lihat ya harga minyak saat ini sudah menembus lebih dari USD 113 per barrel,” ujar Myrdal, Senin (09/03/2026).

Lonjakan harga energi itu pun membuat investor global menarik dana dari pasar negara berkembang. Dampaknya terlihat pada koreksi yang terjadi di pasar saham maupun pasar surat utang negara (SUN) domestik.

Baca juga: Tinggalkan Dollar AS, China-India-Rusia Buat Mata Uang Baru

Myrdal memperkirakan arus keluar dana asing di pasar saham pada hari ini mencapai lebih dari USD 50 juta per hari. Sementara di pasar obligasi pemerintah, outflow diperkirakan menembus lebih dari Rp 500 miliar.

“Jadi itu yang membuat kenapa kalau kita lihat rupiah terbang ya pada hari ini ya melemah terhadap dolar,” ujarnya.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah semakin terasa karena sentimen terhadap aset domestik yang dinilai mulai rapuh. Hal itu terjadi setelah adanya penurunan outlook rating Indonesia oleh lembaga pemeringkat serta meningkatnya arus keluar modal dari pasar keuangan domestik.

Dalam kondisi seperti ini, Bank Indonesia (BI) pun dinilai perlu memperkuat langkah stabilisasi di pasar keuangan untuk meredam volatilitas nilai tukar.

Menurut Myrdal, bank sentral dapat melakukan intervensi di pasar valuta asing maupun di pasar obligasi untuk menjaga stabilitas rupiah. Bank Indonesia juga dapat masuk ke pasar sekunder surat utang negara untuk meredam tekanan di pasar obligasi. Ia menilai ruang kebijakan moneter masih cukup memadai karena cadangan devisa Indonesia tergolong besar.

Selain itu, Bank Indonesia juga dapat memperkuat instrumen stabilisasi likuiditas seperti melalui peningkatan frekuensi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menyerap likuiditas di pasar. Kemudian di sisi kebijakan suku bunga, Myrdal menilai bank sentral sebaiknya mempertahankan suku bunga acuan pada level saat ini dan tidak terburu-buru menaikkannya.

“Terus ya jalan terakhir mereka harus tetap ini menjaga suku bunga BI Rate di level saat ini ya kalau untuk menaikkan suku bunga sih jangan dulu lah kalau dari saya sih,” katanya.

(kumparan.com)

[post-views]
Selaras