Media Utama Terpercaya

19 Januari 2026, 18:54
Search

Rupiah Melemah Terhadap Dolar Australia, Dolar Singapura, Euro dan Ringgit Yang Semakin Menguat. Ini Sebabnya!

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Rupiah melemah
Rupiah Melemah Terhadap Dolar Australia, Dolar Singapura, Euro dan Ringgit [Foto: ajaib.co.id]

Jakarta, mu4.co.id – Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar Australia (AUD). Berdasarkan data Refinitiv, pada perdagangan per Kamis (25/09/2025), rupiah terkoreksi 0,65% ke posisi Rp11.039/AUD, sekaligus mencatatkan level terlemahnya sejak 2021.

Secara year-to-date (ytd), rupiah sudah terdepresiasi 10,83% terhadap dolar Australia. Pada awal tahun, rupiah masih dibuka di level Rp9.953/AUD, namun tren pelemahan terus berlanjut hingga menembus level saat ini.

Tidak hanya itu, nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap euro. Berdasarkan data Refinitiv pada perdagangan hari Kamis (25/09/2025), rupiah ditutup terapresiasi 0,04% ke posisi Rp19.651/EUR. Pada awal 2025, rupiah masih berada di level Rp16.770/EUR, namun kini nilainya sudah terkikis Rp2.881/EUR.

Selain itu, nilai tukar rupiah juga mencatatkan rekor terlemah sepanjang masa terhadap dolar Singapura (SGD). Melansir data Refinitiv, pada perdagangan hari Kamis (25/09/2025), rupiah terpantau melemah 0,56% ke level Rp13.002/SGD, titik terendah rupiah sepanjang sejarah. Padahal, di awal 2025 rupiah masih berada di level Rp11.775/SGD. Artinya, sejak Januari hingga kini, rupiah sudah terdepresiasi hingga 10,37% terhadap mata uang Singapura tersebut.

Bahkan, rupiah juga ikut melemah terhadap ringgit Malaysia, di angka Rp3.966, hampir nyentuh angka psikologis Rp4.000. Dengan menguatnya Ringgit, biaya hidup di Malaysia otomatis makin mahal kalau dihitung pakai Rupiah. Tarif hotel, transportasi, sampai belanja oleh-oleh, semua terasa lebih berat buat kantong.

Baca juga: Dolar Singapura Diprediksi Akan Setara Dolar AS, Ini Alasannya!

Tren pelemahan itu pub diketahui dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal berupa penguatan indeks dolar AS serta kondisi domestik, mulai dari kebijakan suku bunga Bank Indonesia hingga sentimen fiskal yang menekan kepercayaan investor.

Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) kembali memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pekan lalu, sehingga BI Rate kini berada di level 4,75%. Sepanjang tahun 2025, BI sudah memangkas suku bunga total 125 basis poin.

Kebijakan moneter yang longgar ini dinilai sebagian pihak terlalu agresif. Banyak analis menilai langkah BI tersebut sejalan dengan dorongan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi sesuai target Presiden Prabowo, namun di sisi lain berpotensi menimbulkan risiko terhadap kredibilitas dan independensi bank sentral.

“Dorongan kebijakan terbaru untuk mendukung pertumbuhan melalui kombinasi kebijakan fiskal ekspansif dan kebijakan moneter dovish dapat dipandang sedikit negatif bagi rupiah,” tulis analis Bank of America (BofA).

Kemudian dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), yang kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pekan lalu, sehingga BI Rate kini berada di level 4,75%. Sepanjang 2025, total pemangkasan suku bunga sudah mencapai 125 basis poin.
(cnbcindonesia.com)

[post-views]
Selaras