Media Utama Terpercaya

1 Juni 2026, 13:00
Search

Pria Paruh Baya di Kampung Arab Banjarmasin Meninggal Dunia Akibat Sapi Qurban Yang Lepas. Begini Kronologinya!

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Lokasi tempat sapi qurban lepas
Lokasi tempat sapi qurban lepas. [Foto: RRI]

Banjarmasin, mu4.co.id – Suasana persiapan penyembelihan hewan kurban di kawasan Kampung Arab, Jalan Antasan Kecil Barat Gang Ibu, Kelurahan Pasar Lama, Kecamatan Banjarmasin Tengah, mendadak berubah duka setelah seorang warga dilaporkan meninggal dunia akibat insiden sapi kurban mengamuk, Selasa (26/5/2026) sore.

Korban diketahui bernama Zulfikar (53) yang akrab disapa Opek. Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban mengalami luka serius setelah diduga terseret dan diseruduk seekor sapi kurban yang lepas saat proses pemindahan.

Peristiwa tersebut sempat terekam kamera pengawas (CCTV) milik warga dan beredar luas di kalangan relawan emergency. Dalam rekaman terlihat seekor sapi berlari tidak terkendali di dalam gang sempit sebelum menyeruduk korban hingga terpental dan terjatuh tak sadarkan diri.

Sejumlah warga yang berada di lokasi langsung berupaya memberikan pertolongan. Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Namun nyawanya tidak berhasil diselamatkan.

“Korban sempat dibawa ke rumah sakit, tapi informasinya meninggal dunia setelah magrib,”ujar Fikri (46), salah seorang warga setempat, dilansir dari Radar Banjarmasin, Jum’at (29/5).

Menanggapi kejadian tersebut, Kepala UPTD Rumah Potong Hewan (RPH) Basirih Banjarmasin, drh. Annang Dwijatmiko, S.Pt., menjelaskan bahwa berdasarkan laporan yang diterimanya, sapi yang terlibat dalam insiden tersebut merupakan Sapi Bali.

Baca juga: Kurban di Masjid Al Jihad Banjarmasin: Dari 105 Sapi, Didistribusikan Untuk Belasan Ribu Penerima Manfaat

Menurutnya, Sapi Bali memiliki karakteristik berbeda dibanding beberapa jenis sapi potong lainnya karena merupakan hasil domestikasi banteng liar yang secara ilmiah dikenal dengan nama Bos javanicus domesticus.

“Pertama adalah jenis sapinya jenis sapi yang laporan dari kita terima itu, jenisnya adalah jenis sapi Bali yang mana sapi bali ini adalah sejenis banteng liar yang didomistikasi. Namanya Bos javanicus domesticus dan itu karakternya memang liar,” jelasnya dilansir dari Tribunnews Banjarmasin, Jum’at (29/5).

Ia menerangkan, sebagian besar Sapi Bali yang beredar di Kalimantan berasal dari wilayah Nusa Tenggara Timur, khususnya Kupang. Di daerah asalnya, sapi-sapi tersebut umumnya dipelihara secara lepas bebas di padang rumput yang luas.

Kondisi tersebut membuat sebagian sapi mengalami tekanan psikologis ketika harus menjalani perjalanan jauh, berada di lingkungan yang ramai, serta diikat dalam waktu lama menjelang penyembelihan.

“Lebih banyaknya dari sapi yang ada di wilayah kita ini sapi bali yang berasal dari Kupang dan itu pemeliharaannya adalah dilepas bebas di padang rumput. Itu yang mungkin dia terbawa suasana hidup bebas, ketika di tali akhirnya mereka stres,” ungkapnya.

Selain faktor lingkungan, perjalanan distribusi yang panjang dari kandang menuju lokasi kurban juga dapat memengaruhi kondisi hewan. Oleh karena itu, penanganan yang tepat menjadi faktor penting untuk mencegah risiko sapi mengamuk.

Baca juga: Pertahankan Rekor, Masjid Al Jihad Banjarmasin Sembelih 105 Sapi dan 7 Kambing Dalam Sehari. Begini Persiapan Panitia!

Drh. Annang menjelaskan bahwa gejala sapi yang mengalami stres sebenarnya dapat dikenali sejak awal. Di antaranya mata tampak memerah, perilaku tidak tenang, sering memberontak, serta mengeluarkan air liur berlebihan.

“Sebenarnya, secara fisik terlihat matanya jadi merah kondisi tidak tenang terus relatif berontak, dan banyak mengeluarkan air liur. Biasanya itu sudah-sudah menunjukkan gejala-gejala stres,” katanya.

Ia mengimbau panitia kurban maupun masyarakat untuk memperhatikan kondisi hewan sebelum proses penyembelihan, termasuk meminimalkan kebisingan dan memberikan ruang yang cukup agar hewan tetap tenang.

Peristiwa yang merenggut nyawa warga Kampung Arab tersebut menjadi pengingat pentingnya penerapan prosedur penanganan hewan kurban yang aman, baik bagi hewan maupun masyarakat di sekitar lokasi penyembelihan.

Selain memastikan aspek syariat terpenuhi, keselamatan petugas dan warga juga harus menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan ibadah kurban agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

(Radar Banjarmasin, Tribunnews Banjarmasin)

[post-views]
Selaras