Media Berkemajuan

13 April 2024, 11:06

‘Koridor Netzarim’, Upaya Israel Membagi Gaza Menjadi Dua

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Gaza dibuat menjadi 2 yang disebut 'Koridor Netzarim'. [Foto: akun X @wesleysmorgan]

Tel Aviv, mu4.co.id – Israel sedang membangun ‘sabuk militer’ di Gaza untuk tujuan pengendalian keamanan jangka panjang. Proyek tersebut termasuk pembangunan jalan sepanjang 8 km yang akan membagi Jalur Gaza menjadi dua bagian dan memperkuat kontrol Israel di wilayah utara. 

Tentara Israel juga sedang membangun koridor timur-barat yang diperkuat di selatan Kota Gaza untuk membagi jalur tersebut menjadi dua. Tujuan utamanya adalah mencegah pengungsi Palestina mencapai Gaza utara dan memperkuat pendudukan militer Tel Aviv, terutama menjelang rencana invasi darat ke Rafah di selatan. 

Baca Juga: Houthi Sebut Jet Tempur AS-Inggris Bantu Israel Siapkan Pembantaian di Rafah

Menurut pejabat pertahanan Israel yang diwawancarai oleh Wall Street Journal (WSJ), jalan yang membagi Gaza disebut “Koridor Netzarim” dan merupakan bagian dari rencana Tel Aviv untuk mempertahankan kontrol atas wilayah tersebut dalam jangka waktu yang lama.

Pasukan penyerang telah merobohkan dan menghancurkan banyak rumah serta bangunan, termasuk Rumah Sakit Turki, kampus Universitas Al-Aqsa, serta desa Mughraqa dan Juhor al-Dik di Jalur Gaza bagian timur, untuk membuka jalan bagi zona penyangga sepanjang satu kilometer di utara dan selatan koridor. 

Koridor ini juga akan melewati bekas pemukiman Netzarim yang dikosongkan pada tahun 2005 ketika keluarnya mantan Perdana Menteri Ariel Sharon dari Gaza.

Para pejabat ingin menyelesaikan pekerjaan di koridor tersebut sebelum bulan suci Ramadhan dimulai pada awal Maret, yang diperkirakan bertepatan dengan invasi ke Rafah. Rafah adalah lokasi di dekat perbatasan Mesir tempat lebih dari satu juta pengungsi Palestina berkumpul, membentuk kota tenda yang luas.

“Rute timur-barat dimaksudkan untuk digunakan dan dipatroli sampai operasi militer Israel di Gaza selesai, yang bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun,” ucap para pejabat Israel kepada WSJ, dilansir dari TribunNews, Senin (26/2).

“Saya akan menyebutnya jangka panjang dan sementara – tentu saja sepanjang tahun 2024,” ujar Miri Eisin, seorang pensiunan kolonel di tentara Israel.

Baca Juga: Netanyahu Perintahkan Pasukannya Serbu Rafah. Sekjen PBB: Bakal Meningkatkan Mimpi Buruk Kemanusiaan

Pada bulan Januari, pengamat menyoroti bahwa membagi Gaza menjadi dua bagian merupakan bagian penting dari apa yang disebut sebagai “fase ketiga” dari kampanye genosida Israel terhadap warga Palestina.

“Tahap pertama perang Tel Aviv adalah penghancuran massal dan pendudukan di Gaza Utara; tahap kedua adalah pendudukan titik-titik penting di selatan Jalur Gaza, tempat warga sipil Palestina berbondong-bondong mencari keselamatan. Penarikan pasukan saat ini dari wilayah utara berarti bahwa Israel Memperkuat rencana mereka di wilayah selatan dan bersiap untuk melanjutkan ke fase ketiga: perang yang panjang dan berintensitas rendah,” tulis Illiak, jurnalis terkenal Lebanon.

“Saat memasuki tahap ketiga, tentara pendudukan bermaksud mempertahankan penyangga geografis di sekitar Jalur Gaza utara”

“Mereka juga berencana untuk terus menduduki wilayah Lembah Gaza(Gaza tengah) sambil menyelesaikan operasinya di Khan Yunis di selatan,” tegasnya.

Rencana Israel Untuk membagi Gaza menjadi dua sudah dilaporkan oleh media Israel sejak tahun 2018.

“Misi ofensif di dalam jalur tersebut akan dilakukan mulai sekarang oleh divisi penyerangan ujung tombak IDF, yang (menurut rencana) akan memasuki Gaza dan membelahnya menjadi dua, dan bahkan menduduki sebagian besar wilayah tersebut,” tulis analis Ynet Ron Ben-Yishai enam tahun lalu.

Meskipun Tel Aviv berusaha keras untuk mengatasi perlawanan Palestina di Gaza utara, konflik semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir di wilayah yang diduga dikuasai oleh tentara Israel. 

Brigade Qassam mengumumkan keterlibatan pejuangnya dalam pertempuran sengit melawan pasukan Israel di daerah Zaytoun, Kota Gaza, yang menyebabkan kematian satu tentara Israel dalam jarak dekat.

Sayap bersenjata Hamas juga mengumumkan serangan RPG terhadap beberapa tank Merkava Israel. Bentrokan juga terjadi di kota selatan Khan Yunis ketika pasukan Israel bersiap memasuki Rafah.

Kekerasan yang terus berlanjut telah memaksa para organisasi kemanusiaan untuk mengurangi pengiriman makanan ke puluhan ribu warga Gaza yang masih berada di utara, ketika pasukan Israel tanpa pandang bulu menembaki konvoi PBB yang membawa pasokan penting.

Sumber: TribunNews

[post-views]
Selaras
error: Content is protected !!