Takalar, mu4.co.id – Menteri Agama Nasaruddin Umar dilaporkan menggunakan fasilitas jet pribadi milik pengusaha sekaligus politikus Oesman Sapta Odang (OSO) saat menghadiri peresmian Gedung Balai Sarkiah di Takalar, Sulawesi Selatan, pada Ahad (15/2). Kehadirannya disebut merupakan undangan langsung dari OSO.
Kabar tersebut mengundang respons dari sebuah akun X @Za******i terkait dugaan praktik gratifikasi.
“Menteri Agama menggunakan private jet Embrarier Legacy 600 dalam kunjungan kerja ke Bone baru-baru ini. Private jet berarti: biaya mahal, boros emisi, gaya pejabat elite,” bunyi unggahan X tersebut.
Baca Juga: KPK: Pemberian Hadiah Untuk Guru Bisa Dianggap Gratifikasi!
Mengetahui respons tersebut, Kemenag kemudian memberi klarifikasi terkait penggunaan fasilitas jet pribadi untuk Menag Nasaruddin Umar.
“Pak OSO secara khusus mengundang dan berharap Balai Sarkiah diresmikan Menag. Pak OSO yang berinisiatif siapkan jet pribadi untuk Menag agar bisa hadir di tengah agenda Menag yang padat. Seluruh moda transportasi perjalanan disiapkan oleh penyelenggara,” ungkap Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag Thobib Al Asyhar, dikutip dari CNN, Jum’at (20/2).
Thobib menyebut Gedung Balai Sarkiah di Kelurahan Sabintang akan menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial di Sulawesi Selatan sekaligus wadah pemberdayaan umat. Ia juga menyebut Nasaruddin Umar tetap melayani umat meski di hari libur.
Baca Juga: Gus Irfan Ingatkan Calon Petugas Haji 2026 Tolak Uang dan Hadiah dari Jemaah
Sementara itu, KPK menyatakan akan menelusuri apakah pemberian fasilitas jet pribadi kepada Nasaruddin Umar dari Oesman Sapta Odang termasuk dugaan gratifikasi atau tidak.
“Nanti dilihat, dan kami pastikan dulu, apakah ada sisi-sisi yang kemudian berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan atau kewenangan jabatannya?” ujar Ketua KPK, Setyo Budiyanto.
Setyo sendiri menegaskan KPK tidak bisa langsung menyimpulkan penerimaan fasilitas tersebut sebagai pelanggaran. Ia menyebut lembaganya tetap menjalankan prosedur untuk menentukan apakah kasus itu perlu ditindaklanjuti atau tidak.
(CNN, Kompas)













