Media Utama Terpercaya

7 Juni 2026, 18:45
Search

Jawa Tengah Jadi Pelopor Pendidikan Koperasi di Sekolah, Tuai Apresiasi

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Jawa Tengah Jadi Pelopor Pendidikan Koperasi di Sekolah
Jawa Tengah Jadi Pelopor Pendidikan Koperasi di Sekolah [Foto: jatengprov.go.id]

Jakarta, mu4.co.id – Jawa Tengah menjadi provinsi pelopor pelaksanaan pendidikan koperasi di sekolah secara sistematis dan berkelanjutan, yang menyasar sekitar 6,38 juta peserta didik dari jenjang SD/MI hingga SMA/SMK/MA dan SLB.

Saat peluncuran Program Insersi Pendidikan Perkoperasiandi Gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang, Jumat (05/06/2026), Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi mengatakan program tersebut menjadi langkah penting agar generasi muda kembali mengenal koperasi sejak bangku sekolah. Menurutnya, koperasi merupakan amanat konstitusi sekaligus sokoguru ekonomi yang harus dipahami masyarakat.

“Koperasi merupakan amanah Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pasal 33. Program ini juga selaras dengan kebijakan pemerintah terkait Koperasi Merah Putih,” katanya.

Pihaknya menegaskan bahwa pendidikan koperasi tidak akan menambah beban belajar siswa. Sebab, materi perkoperasian akan dimasukkan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, modul pendidikan perkoperasian pun telah disiapkan. Para kepala sekolah, pengawas, dan guru juga telah mendapat pembekalan untuk pelaksanaan program tersebut. Bahkan, Jawa Tengah menjadi provinsi pertama yang menginisiasi materi dan modul koperasi untuk pembelajaran anak-anak di sekolah.

Baca juga: Banjarmasin Perkuat 52 Koperasi Merah Putih, Dorong Kemandirian Ekonomi Kelurahan

Lebih lanjut, Luthfi menjelaskan Program Insersi Pendidikan Perkoperasian dilaksanakan dengan mengintegrasikan materi dan nilai-nilai koperasi ke dalam pembelajaran pada seluruh jenjang pendidikan.

Pada jenjang SD/MI, siswa dikenalkan dengan nilai dasar koperasi dan gotong royong. Sementara pada jenjang SMP/MTs, peserta didik mulai diberi pemahaman tentang organisasi, pengelolaan, dan manfaat koperasi. Kemudian pada jenjang SMA/SMK/MA, materi diarahkan pada praktik koperasi dan kewirausahaan. Untuk SLB, implementasinya disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik.

Langkah itupun diapresiasi Menteri Koperasi RI, Ferry Juliantono. Ia menyebut Jawa Tengah telah mencatatkan sejarah karena menjadi daerah pertama yang membuat insersi kurikulum perkoperasian. Menurutnya, insersi pendidikan koperasi penting untuk mengembalikan pemahaman generasi muda terhadap ekonomi Pancasila. Ia berharap langkah Jawa Tengah dapat diikuti daerah lain. “Koperasi penting dikenalkan karena bisa menjadi alternatif penyediaan lapangan pekerjaan bagi milenial, Gen Z, generasi muda, hingga generasi Alpha yang sekarang masih sekolah,” paparnya.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI Toni Toharudin juga mengapresiasi atas langkah Jawa Tengah. Ia menyebut pendekatan insersi yang dilakukan Jawa Tengah membuat pembelajaran lebih relevan dengan kehidupan nyata tanpa menambah beban kurikulum. “Pendekatan ini memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih otentik, tanpa harus menambah beban kurikulum atau menciptakan mata pelajaran baru,” lengkapnya.

Tidak hanya itu, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar turut menyatakan dukungan terhadap program tersebut. Menurutnya, pendidikan perkoperasian sejalan dengan nilai keagamaan, terutama semangat tolong-menolong, kepedulian sosial, dan kemandirian umat. “Kementerian Agama bersama seluruh lembaga pendidikannya siap mendukung gagasan cerdas yang dimunculkan oleh Gubernur Jawa Tengah,” katanya.
(detik.com)

[post-views]
Selaras