Media Berkemajuan

26 Mei 2024, 01:49

Haedar Nashir Isi Khutbah di UMY, Ajak Umat Bangun Keseimbangan Hidup

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
[Foto: Instagram @haedarnashirofficial]

Yogyakarta, mu4.co.id – Khutbah Idul Fitri di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) diisi oleh Haedar Nashir pada Rabu, 10 April 2024.

Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan hakikat puasa yakni agar setiap muslim seperlunya dalam makan, minum, serta pemenuhan kebutuhan biologis. Secala lebih luas secukupnya dan tidak berlebihan dalam urusan dunia.

”Penuhilah semua keperluan hidup itu secara tengahan (tawasuth, tawazun) dan tidak berlebihan,”kata Haedar dikutip dari laman Muhammadiyah, Rabu (10/4).

Realitas saat ini menunjukkan bahwa banyak masalah dan penyakit kehidupan manusia disebabkan oleh sikap berlebihan, rakus, dan melampaui batas. Konsumsi makanan dan minuman yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai penyakit dalam tubuh manusia. Selain itu, penyimpangan, penyalahgunaan, korupsi, konflik, dan krisis dalam masyarakat dan bangsa sering kali terjadi karena nafsu yang menguasai dan persaingan kepentingan yang berlebihan.

Baca Juga: Sambut Kemenangan Idul Fitri 1445 H, Jemaah Padati Masjid Al-Jihad

Hubungan antar bangsa di ranah global menjadi gawat darurat bahkan terjadi perang karena sikap rakus suatu negara. Contoh negara yang sangat rakus sehingga menjadi penjajah yang jahat yaitu Israel. Setelah berhasil menjajah tanah Palestina tahun 1948 dan mendirikan negara sendiri, bangsa Zionis itu secara agresif ingin memusnahkan bangsa hingga masyarakat Palestina.

”Segala bentuk penjajahan di muka bumi juga lahir karena kerakusan, yang membuat negeri jajahan menderita berkepanjangan seperti dialami bangsa Indonesia ratusan tahun lamanya,” ucap Haedar.

Selain itu, kerusakan lingkungan hidup global saat ini seperti perubahan iklim, banjir, kerusakan sumber daya alam, dan berbagai bencana alam terjadi akibat ulah manusia yang melampaui batas.

Baca Juga: Khutbah Idul Fitri 1445 H, Ustaz H Umar Said Thalib (di Halaman Masjid Al Jihad Banjarmasin)

Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an surah Ar-Rum ayat 41 yang artinya “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.”

Islam mengajarkan untuk hidup secara sederhana dengan usaha yang halal dan baik. Hindari segala bentuk perilaku yang berlebihan atau melampaui batas. Sikap ekstrem, baik itu berlebihan (ghuluw), menyalahkan (tafrith), atau meremehkan (tanqis), tidak sesuai dengan ajaran Islam.

”Ketika harus bernahyu-munkar pun mesti dengan cara yang makruf atau baik; di samping dengan hikmah, edukasi yang baik, dan mujadalah yang lebih baik sejalan pendekatan dakwah yang diajarkan Allah (QS Al-Nahl: 125),” jelas Haedar.

Haedar mendorong umat Muslim untuk memanfaatkan bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri sebagai sarana untuk mengembangkan sikap hidup yang moderat dan tidak berlebihan.

”Setiap muslim mesti bersikap wasathiyah atau atau moderat dalam menjalani kehidupan. Bangun keseimbangan hidup antara ruhani dan jasmani, jiwa dan fisik, individu dan kolektif, ibadah mahdhah dan muamalah, serta antara dunia dan akhirat secara utuh, bermakna, dan bertujuan utama. Di situlah makna hidup manusia yang bermartabat mulia (fi ahsan at taqwim) yang membedakannya dengan makhluk Tuhan lainnya,” ucap Haedar.

Sumber: Muhammadiyah

[post-views]
Selaras
error: Content is protected !!