Banjarmasin, mu4.co.id – Awal musim hujan 2026/2027 di Kalimantan Selatan diprediksi mundur dari kondisi normal. Sebanyak 49,3% wilayah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November 2026, sedangkan 50,7 % lainnya pada Desember 2026. Prediksi tersebut disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, Yosef Luky Dwi Prasetya, dalam konferensi pers virtual, Rabu (7/10).
Dibandingkan periode normal tahun 1991–2020 lalu, sebanyak 64,5% wilayah kini diperkirakan mengalami kemunduran awal musim hujan tiga dasarian atau lebih. Kondisi ini membuat risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diwaspadai, terutama pada September-Oktober.
BMKG menyebut fenomena El Niño berintensitas sangat kuat pada Juli-September dan diprediksi bertahan hingga awal 2027, sementara Indian Ocean Dipole (IOD) positif diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun 2026.
Baca Juga: Viral Asap Karhutla Kalimantan Disebut Bergerak ke Jawa, Ini Penjelasan BMKG
Meski awalnya diprediksi mundur, sifat musim hujan 2026/2027 di seluruh wilayah Kalsel diperkirakan normal, dengan curah hujan berada di sekitar rata-rata klimatologis.
Puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Januari 2027 di 56,4% wilayah Kalsel, disusul Desember 2026 sebesar 36%. Sisanya diperkirakan mengalami puncak pada Maret dan Mei 2027. Dibandingkan kondisi normal, puncak musim hujan diprediksi mundur satu bulan di 53,1% wilayah.
Dilansir dari Rilis Kalimantan pada Jum’at (9/10), durasi musim hujan Kalsel diperkirakan berlangsung selama 19–21 dasarian di 46,6% wilayah dan 22–24 dasarian di 50,4% wilayah. Sisanya diprediksi berlangsung selama 25–27 dasarian.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat mengantisipasi kondisi tersebut melalui penyesuaian jadwal tanam dan pemilihan varietas berumur pendek di sektor pertanian.
Baca Juga: Prabowo Wacanakan Penggabungan BMKG dan Badan Geologi, Ini Respons BMKG
Sementara itu, sektor sumber daya air perlu mengoptimalkan tampungan air hujan, memperbaiki drainase, dan memperkuat konservasi air.
Di sektor kesehatan, masyarakat diimbau mewaspadai penyakit akibat genangan air dengan memperkuat pemberantasan sarang nyamuk dan larvasidasi. Kesiapsiagaan menghadapi banjir dan longsor juga perlu ditingkatkan melalui perbaikan drainase dan persiapan evakuasi.
Secara nasional, BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia akan datang lebih lambat. Kondisi ini dipengaruhi fenomena El Niño berintensitas sangat kuat yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027.
(Rilis Kalimantan)















