Prancis, mu4.co.id – Bangunan bersejarah berusia sekitar 140 tahun di Balai Kota Limoges, Prancis, rusak parah akibat kebakaran hebat pada Sabtu (17/10) waktu setempat. Api melalap atap hingga menyebabkan menara jam bangunan tersebut runtuh.
Petugas pemadam kebakaran berupaya mengendalikan api hingga malam hari. Otoritas setempat menduga kebakaran dipicu sekelompok perusuh yang menerobos masuk saat demonstrasi tentang biaya hidup berlangsung.
“Balai Kota Limoges, situs warisan dan bangunan ikonik bagi semua orang, sebagian besar telah hancur,” demikian pernyataan Otoritas Prefektur Haute-Vienne, dikutip dari Times Indonesia, Senin (19/10).
Wali Kota Limoges, Guillaume Guérin, mengecam perusakan fasilitas publik tersebut. Ia menegaskan bahwa demonstrasi merupakan hak warga, tetapi persoalan sosial dan ekonomi tidak membenarkan tindakan menghancurkan bangunan milik bersama.
“Tidak ada perselisihan atau keluhan yang dapat membenarkan penghancuran properti publik,” ujar Guérin.
Menurut prefektur setempat, sekelompok perusuh memasuki Balai Kota Limoges sekitar pukul 18.00 pada Sabtu dan membakar bangunan tersebut. Petugas pemadam kebakaran kemudian dikerahkan untuk memadamkan api.
Sebelumnya, sekitar 2.000 orang berkumpul di kawasan Casseaux pada pukul 14.00. Lebih dari 500 orang di antaranya disebut sengaja mencari konfrontasi, termasuk dengan melempar benda ke arah aparat keamanan.
Baca Juga: Gelar Aksi Demonstrasi Sehari Setelah Hari Kemerdekaan ke-81 RI, Ini 8 Tuntutan BEM UI
Kerusuhan meluas hingga sejumlah toko di Rue Jean Jaurès dijarah. Empat polisi mengalami luka serius dan empat kendaraan kepolisian dirusak. Sebanyak 19 orang telah ditahan terkait demonstrasi, sementara penyelidikan masih berlangsung.
Aksi awalnya dipicu protes pelajar terhadap kekurangan guru, padatnya ruang kelas, dan buruknya fasilitas sekolah sejak September 2026. Gerakan ini kemudian meluas dengan dukungan serikat pekerja dan kelompok Yellow Vest yang sebelumnya menentang kenaikan harga bahan bakar.
Pada Sabtu (17/10), demonstrasi berkembang menjadi aksi massa yang menyoroti mahalnya biaya hidup, ketimpangan sosial, dan menurunnya kualitas layanan publik.
Di sejumlah titik, aksi berujung bentrokan setelah demonstran melempar benda ke arah aparat, yang kemudian membalas dengan gas air mata dan meriam air.
(Times Indonesia, CNBC)












![Jembatan Cemara Ujung–Sungai Andai [Cusa]](https://mu4.co.id/wp-content/uploads/2026/10/IMG_5656-300x169.webp)