Media Utama Terpercaya

18 Februari 2026, 14:00
Search

Arab Saudi Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh Pada Rabu, 18 Februari 2026!

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Arab Saudi tetapkan awal Ramadhan 1447 H
Arab Saudi tetapkan awal Ramadhan 1447 H. [Foto: AI/mu4.co.id]

Jeddah, mu4.co.id – Pemerintah kerajaan Arab Saudi menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada hari Rabu (18/2/2026). Dilaporkan dari Al Arabiya English dan Saudi Gazette, Rabu (18/2), penetapan itu diumumkan oleh Mahkamah Agung setelah menerima laporan komite-komite pengamat kemunculan bulan baru di seluruh wilayah Kerajaan Saudi bahwa bulan sabit terlihat yang menandai awal bulan.

Penetapan ini berbeda dengan pemerintah Indonesia. Setelah mempertimbangkan hasil hisab posisi hilal dan laporan rukyatul hilal di berbagai daerah di Indonesia dengan hasil dari 96 titik pemantauan hilal yang digelar Kemenag, tidak ada satu pun petugas yang melihat hilal, maka Menteri Agama (Menag) RI, Prof Nasaruddin Umar mengumumkan awal Ramadhan 2026/ 1447 H bertepatan pada Kamis (19/2/2026).

“Berdasarkan hisab dan tidak ada yang melihat hilal, maka satu Ramadhan 1447 H/ 2026 M jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026,” ujarnya dalam konfrensi pers setelah sidang Isbat, Selasa (17/2) petang.

Baca juga: Arab Saudi Tetapkan Tarawih 10 Rakaat dan 3 Witir di Masjidil Haram & Nabawi Selama Ramadan 2026

Hal ini berbeda dengan keputusan Muhammadiyah yang telah menetapkan awal Ramadhan 2026 lebih dulu. Melalui maklumatnya, Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu (18/2/2026) karena menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Nasaruddin sempat menyinggung perkembangan gagasan KHGT yang mulai didorong di sejumlah negara dan forum internasional seperti OKI, yang menggunakan pendekatan visibilitas global. Namun untuk saat ini, Indonesia tetap berpegang pada kriteria yang disepakati bersama Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) sebagai dasar penetapan resmi pemerintah.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag, Abu Rokhmad mengatakan dalam penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri 1 Syawal, dan Idul Adha, Kemenag mengintegrasikan metode hisab dan rukyah. Hal ini, lanjutnya, sejalan dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

“Sidang isbat mempertemukan data hisab dengan hasil rukyatul hilal. Pemerintah berupaya memastikan penetapan awal Ramadan dilakukan secara ilmiah, transparan, dan melibatkan seluruh unsur terkait,” katanya dilansir dari republika, Rabu (18/2).

Baca juga: Prof. Tono Saksono Berikan Alasan Ilmiah Mengapa Awal Ramadhan 1447 H Jatuh pada 18 Februari 2026!

Ia mengungkapkan ijtimak (konjungsi) menjelang Ramadhan 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB menunjukkan posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia berada di bawah ufuk, dengan ketinggian berkisar -2° 24 menit 42 detik hingga -0° 58 menit 47 detik, serta sudut elongasi 0° 56 menit 23 detik hingga 1° 53 menit 36 detik.

Setelah matahari terbenam di Indonesia, posisi hilal masih berada di bawah ufuk (hilal negatif) sehingga tidak memenuhi kriteria pemerintah melalui Kementerian Agama RI, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat di wilayah Indonesia.

Berbeda dengan metode KHGT yang diterapkan Muhammadiyah, yang salah satu parameter pentingnya adalah posisi hilal setelah ijtimak dengan ketinggian minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat di mana saja di permukaan bumi, bukan terbatas pada wilayah tertentu, seperti Indonesia saja. Dan parameter tersebut telah terpenuhi di Alaska, Amerika Serikat, dengan ketinggian hilal 05° 23’ 01” dan elongasi 08° 00’ 06” pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 UTC atau 19.01 WIB.

(Republika)

[post-views]
Selaras