Media Utama Terpercaya

22 Mei 2026, 22:35
Search

Timwas Haji DPR Kunjungi Hotel Jemaah RI Terjauh, Al Hidayah Tower, Soroti Sejumlah Masalah

Facebook
X
WhatsApp
Telegram
Timwas Haji DPR Soroti Sejumlah Masalah Hotel Al Hidayah Tower
Timwas Haji DPR Soroti Sejumlah Masalah Hotel Al Hidayah Tower [Foto: tripadvisor.co.id]

Mekkah, mu4.co.id – Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR meninjau Hotel Al Hidayah Tower di Mekkah, Arab Saudi yang tengah menjadi sorotan, pada Rabu (20/05/2026).

Hal tersebut karena Al Hidayah Tower yang terletak di kawasan Aziziyah, pemondokan jemaah haji Indonesia paling jauh dari Masjidil Haram, berjarak 13 kilometer dari Masjidil Haram. Selain itu, pemondokan tersebut juga sudah lama tidak digunakan. Setidaknya saat ini ada 2.000 jemaah haji dari berbagai kelompok penerbangan (kloter) di Indonesia yang diinapkan di pemondokan tersebut sejak musim haji tiba.

Dalam peninjauan tersebut, Timwas Haji DPR menemukan beberapa hal yang menjadi catatan untuk Kementerian Haji dan Umrah sebagai penyelenggara ibadah haji. Pertama adalah adanya kamar jemaah di tower 4 yang “banjir”.

“Desain kamar mandinya rata antara area mandi dengan lantai luar. Tentu airnya meluber keluar. Apalagi satu kamar diisi lima orang sehingga frekuensi penggunaan kamar mandi tinggi. Air keluar membasahi karpet, lama-kelamaan menjadi bau dan mengganggu kenyamanan. Ventilasi juga menjadi sorotan,” kata Ketua Timwas Haji DPR, Cucun Ahmad Syamsurijal yang didampingi sejumlah anggota Timwas Haji DPR,” lanjutnya.

Baca juga: Air Mati di Hotel Jemaah Haji 2026 Saat Jam Shalat, PPIH Buka Suara

Kemudian, Timwas Haji DPR menemukan di tower 6 ada musala yang tidak dilengkapi dengan tempat untuk berwudu. Para jemaah haji terpaksa memakai wastafel, yang mengharuskan mereka mengangkat kaki, saat berwudlu.

“Selanjutnya, masalah tempat mencuci pakaian untuk 1.800 orang di satu tower. Ini harus dicarikan solusi karena aturan saat ini melarang menjemur di rooftop maupun di basement,” tambah Cucun.

Menurutnya, ketersediaan beberapa fasilitas pendukung seperti itu seharusnya menjadi pertimbangan sebelum memutuskan hotel yang akan dijadikan pemondokan jemaah haji. Ke depan, pencarian hotel harus betul-betul diperhatikan oleh pemerintah. “Apabila ada hotel yang pelayanannya sudah bagus di tahun kemarin, sebaiknya jangan dilepas,” sebutnya.

Meski demikian, Timwas Haji DPR melihat dari sisi konsumsi adanya pelayan yang luar biasa di Al Hidayah Tower. Nasinya tidak keras seperti tahun-tahun sebelumnya dan sudah familiar dengan lidah orang orang Indonesia. Begitupun dengan lauk-pauk seperti daging yang dimasak dengan bumbu khas Indonesia beserta pelengkap lainnya.

Kemudian terkait transportasi jemaah dari pemondokan ke Masjidil Haram, Timwas Haji DPR melihat sudah disediakan secara memadai. Jumlahnya mencapai 55 armada bus Shalawat, yang akan ditambah 5 lagi saat beberapa kloter jamaah terakhir datang.

Untuk jalurnya sendiri, bus Shalawat beroperasi secara langsung tanpa transit dari pemondokan ke Masjidil Haram. Ini memang permintaan Timwas Haji DPR sejak lama mengingat jauhnya lokasi pemondokan jemaah.

“Tidak boleh ada transit di Bakhutmah atau Aziziah. Rutenya murni dari Buruz Hidayah langsung ke Jabal Ka’bah. Alhamdulillah, Jabal Ka’bah sekarang sudah dibuka sehingga jemaah merasa nyaman karena akses jalannya tidak terlalu jauh,” pungkasnya.
(detik.com)

[post-views]
Selaras