Jakarta, mu4.co.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia menjadi negara dengan ketahanan energi terbaik kedua di dunia, meski kondisi geopolitik global turut memengaruhi pasokan energi.
Capaian ini mengacu pada laporan Eye on the Market dari JPMorgan Asset Management yang menilai 52 negara konsumen energi terbesar.
Indonesia berada di peringkat kedua, di bawah Afrika Selatan dan di atas Tiongkok. Indonesia didukung produksi migas serta cadangan batubara yang mampu memenuhi kebutuhan domestik.
Baca Juga: Viral! Temuan Material Hitam di Pekarangan Warga di Samarinda, Diduga Batu Bara
“Di tengah (kondisi) geopolitik itu melahirkan ketidakpastian terhadap seluruh pasokan energi global. Dunia hampir semua merasakan dampak ini. Dalam kondisi seperti ini, kita harus bersyukur di bawah kepemimpinan Presiden Bapak Prabowo Subianto yang notabenenya adalah alumni TNI, Indonesia dinilai oleh JP Morgan itu menjadi negara terbaik kedua di dunia yang mempunyai ketahanan energi,” ungkap Bahlil dalam keterangan tertulis, dikutip dari detik finance, Jum’at (1/5).
Bahlil menyebut ketahanan energi dari sektor migas didukung capaian lifting minyak 2025 yang memenuhi target APBN sebesar 605 ribu barel per hari (bph), dengan target tahun ini naik menjadi 610 ribu bph.
Pemerintah pun mendorong peningkatan produksi melalui teknologi lanjutan, reaktivasi sumur idle, serta eksplorasi di Indonesia Timur. Salah satu temuan terbaru berasal dari sumur Geliga-1 di Blok Ganal, Kalimantan Timur, yang diperkirakan menyimpan sumber daya gas 5 triliun kaki kubik (Tcf) dan 300 juta barel kondensat.
“Satu tahun setengah kita melakukan eksplorasi, kita dapat lagi gas di Kalimantan Timur, namanya Geliga. Itu 5 TCF, 5 triliun mm. Dengan mendapatkan 300 juta kondensat, ekuivalen dengan 375 juta barel minyak. Ini akan produksi di 2028-2029,” tambahnya.
Baca Juga: BRIN Ungkap Harta Karun Metana Hidrat di Dasar Laut Indonesia, Potensinya Capai 800 TSCF!
Pemerintah juga menekan impor BBM dengan mengembangkan biodiesel B50 yang ditargetkan berlaku nasional mulai 1 Juli 2026, sehingga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor secara signifikan.
“Kebutuhan kita, BBM solar, pada tahun 2026, itu kita butuh kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter. Dari 40 juta kiloliter ini, kita dengan B40 dan B50, Alhamdulillah mulai tahun 2026, tidak lagi kita melakukan impor solar pertama sejak Republik ini berdiri. Dari solar kita sudah tidak impor,” ujar Bahlil.
Pemerintah juga berupaya menekan impor LPG dengan mengkaji alternatif seperti Dimetil Eter (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG). Saat ini, CNG sudah dimanfaatkan di berbagai sektor, termasuk perhotelan, restoran, dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), dengan pasokan dari dalam negeri.
(Detik finance)


![Kepala Badan Gizi Nasional [BGN] Dadan Hindayana](https://mu4.co.id/wp-content/uploads/2026/04/01JVV01GY6HGVPS0EF9THWGB3J-2048x1152-1-300x169.jpg)












