Balikpapan, mu4.co.id – Kilang Pertamina Internasional (KPI) menjalin kerja sama dengan PT Garam untuk membangun pabrik pengolahan garam di Balikpapan, Kalimantan Timur, dengan memanfaatkan potensi air laut di kawasan kilang setempat.
Penjajakan ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Direktur Utama KPI Taufik Aditiyawarman dan Direktur Utama PT Garam Abraham Mose pada Rabu (28/1).
Kerja sama ini dinilai strategis untuk mendukung program substitusi impor garam industri dan memperkuat ketahanan pasokan nasional, mengingat Indonesia masih mengimpor sekitar 64 persen kebutuhan garam.
Baca Juga: Indonesia Akan Bangun Pabrik Plasma Darah Terbesar di ASEAN. Ini Rencananya!
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyebut kolaborasi tersebut sebagai tonggak penting yang tidak hanya mendorong hilirisasi, tetapi juga memperkuat kemandirian energi dan pangan.
“Kami sangat bangga dan mendukung kerja sama ini. Ibarat mobil, kolaborasi antara KPI dan PT Garam adalah double gardan kemandirian. Tak hanya kemandirian energi yang menjadi domain Pertamina, tapi juga akan menciptakan pangan,” ungkap Agung dikutip dari MSN, Jum’at (6/1).
Agung menyebut pembangunan pabrik garam di Balikpapan dengan kapasitas sekitar 1.000 kilo tons per annum (KTA) berpotensi menekan impor hingga USD 150 juta atau sekitar Rp2,5 triliun. Ia berharap proyek ini memberi efek pertumbuhan kawasan industri dan penciptaan lapangan kerja, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen garam industri di Asia Tenggara.
Baca Juga: Prabowo Resmikan Kilang Minyak Terbesar RI di Balikpapan Senilai Rp123 Triliun!
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose, menyambut positif kerja sama tersebut. Hilirisasi garam nasional ini akan memanfaatkan air buangan desalinasi dari kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang dinilai sangat potensial setelah survei lapangan. Proyek ini diperkirakan mampu menghasilkan sekitar satu juta ton garam per tahun.
Abraham menambahkan, kebutuhan garam nasional saat ini mencapai 5,7 juta ton per tahun dan diproyeksikan meningkat menjadi 7,3 juta ton seiring pembangunan fasilitas chlor alkali plant.
Sementara itu, produksi PT Garam baru menghasilkan sekitar 500 ribu ton, sehingga masih terdapat kesenjangan pasokan yang besar.
“Ini menjadi tugas kita bersama, bagaimana memenuhi kebutuhan garam nasional sehingga Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujar Abraham Mose.
(MSN)












