Media Utama Terpercaya

19 Januari 2026, 18:51
Search

Rupiah Cetak Rekor Terlemah Mendekati Rp17.000 per Dolar AS. Ini Tanggapan BI!

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Rupiah melemah mendekati Rp17.000
Rupiah melemah mendekati Rp17.000. [Foto: AI/mu4.co.id]

Jakarta, mu4.co.id – Pada pertengah Januari 2026, nilai tukar rupiah kembali melemah, Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah berada di level Rp16.860 per dolar AS pada Selasa (13/1/2026). Hal ini mencerminkan depresiasi sebesar 1,04 persen secara tahun berjalan.

Pelemahan ini dikarenakan meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari kebijakan moneter Amerika Serikat hingga eskalasi ketegangan geopolitik. Kondisi tersebut masih dianggap sejalan dengan dinamika regional dan stabilitas rupiah tetap terjaga melalui kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G Hutapea, mengatakan tekanan terhadap rupiah ini karena gejolak keuangan pasar global. Eskalasi tensi geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS menjadi pemicu utama meningkatnya volatilitas nilai tukar.

“Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia,” ujar Erwin dilansir dari leetmedia.id, Jum’at (16/1).

Baca juga: Bank Indonesia Akan Terbitkan Rupiah Digital, Seperti Apa Bentuk dan Fungsinya?

Kondisi ini bukan hanya terjadi di Indonesia, namun juga berdampak pada negara dengan sentimen global serupa. Won Korea Selatan tercatat melemah lebih dalam hingga 2,46 persen, sementara peso Filipina terkoreksi 1,04 persen. Akhirnya, BI menganggap hal ini masih sejalan dengan mata uang regional lainnya.

Meskipun tekanan rupiah ini terjadi, kepercayaan investor kepada Indonesia masih dinilai positif, terbukti dengan masuknya aliran modal asing secara neto ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dan pasar saham yang mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026 dan credit default swap tenor lima tahun bertahan di level rendah, sekitar 72 basis poin, menandakan persepsi risiko investor global masih terjaga.

BI melakukan strategi stabilitasi yang komperhensif, baik di pasar, domestik, maupun internasional untuk memastikan pergerakan rupiah tetap mencerminkan fundamental ekonomi dan mekanisme pasar yang sehat.

“Stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder,” kata Erwin.

Baca juga: Rupiah Melemah Terhadap Dolar Australia, Dolar Singapura, Euro dan Ringgit Yang Semakin Menguat. Ini Sebabnya!

Posisi cadangan devisa yang kuat mendukung ketahanan ekonomi Indonesia. Tercatat sebesar USD156,5 miliar atau setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor untuk cadangan devisa Indonesia per akhir Desember 2025.

Bank Indonesia akan selalu menegaskan komitmennya untuk terus berada di pasar dan mengoptimalkan instrumen moneter yang bersifat pro-market. Meski tekanan global masih berlanjut, BI optimis stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga dengan adanya kebijakan yang konsisten dan dukungan fundamental ekonomi.

“Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat,” tutup Erwin.

(leetmedia.id)

[post-views]
Selaras