Jakarta, mu4.co.id – Tiga siswa sekolah menengah atas dari Sinarmas World Academy (SWA) mengembangkan sebuah perangkat headset berbasis AI yang dirancang untuk memulihkan kemampuan komunikasi bagi orang yang kehilangan kemampuan berbicara akibat ALS, stroke, atau kondisi neuromuskular lainnya. Perangkat tersebut diberi nama LUMA.
Ketiga siswa tersebut adalah Audric Tsai, Zhenxuan, dan Yik Yan yang membentuk tim bernama SWA RoboKnights. Mereka meraih tiga Gold Awards dan Start-Up Award di kategori Future Innovators, Senior pada ajang World Robot Olympiad (WRO) International Final 2025 yang diikuti oleh lebih dari 500 tim dari 91 negera.
LUMA berfungsi menerjemahkan intensi pengguna menjadi ucapan verbal yang awalnya membaca sinyal EGG dan pola kedipan mata, kemudian dikonversi menjadi kode Morse, selanjutnya diproses melalui model bahasa AI yang didukung deteksi objek secara real-time.
Sebelum disuarakan oleh perangkat, hasil terjemahan tersebut akan ditampilkan terlebih dahulu sebagai saran frasa kontekstual melalui kacamata augmented-reality (AR), sehingga teknologi ini memungkinkan pengguna dapat menyampaikan kebutuhan, emosi, dan pemikiran secara lisan.
Menariknya, estimasi biaya pembuatan LUMA ini hanya berkisar Rp10 juta, jauh lebih murah dibandingkan biaya sistem antarmuka otak-komputer dan pelacakan mata yang umumnya di pasaran dengan biaya sekitar Rp150-210 juta.
Setelah kompetisi, fokus tim SWA RoboKnights saat ini adalah berkolaborasi dengan rumah sakit dan pusat kesehatan dalam melakukan pengujian LUMA kepada pasien nyata untuk memvalidasi fungsi alat tersebut di dalam lingkungan medis.

“Ketika anak muda diberikan pembelajaran yang berorientasi pada tujuan dan kebebasan untuk berkreasi, mereka dapat mengubah kehidupan secara nyata. Pencapaian ini mencerminkan komitmen sekolah dalam memfasilitasi inovasi yang menggabungkan keunggulan teknis dengan tanggung jawab sosial,” ujar General Manager Sinarmas World Academy, Deddy Djaja Ria, dilansir dari laman resmi SWA, Senin (12/1).
Kesuksesan ini menunjukkan bahwa siswa Indonesia juga mampu bersaing dan memimpin di panggung global dan menunjukkan adanyan potensi inovasi yang dipimpin oleh pemuda untuk memberikan solusi yang inklusif, dapat diperluas (scalable), dan bermakna secara sosial.
(SWA, medcom.id)














