Qatar, mu4.co.id – Dalam pertemuan darurat atau Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Doha, Qatar tepatnya Senin, 15 September 2025 yang lalu, dicetuskan pembentukan aliansi pertahanan negara-negara muslim.
Belakangan ini seruan itu kembali menguat akibat eskalasi serangan Israel, dari rentetan serangan terhadap Iran awal tahun ini, operasi militer yang masih berlangsung di Gaza, hingga serangan terbaru di Doha pada Selasa, 9 September 2025 yang menewaskan lima anggota Hamas dan seorang petugas keamanan Qatar.
Mesir dan Iran adalah dua negara yang tampil di garis depan mendorong lahirnya kekuatan militer seperti NATO di kawasan Timur Tengah. Usulan itu dianggap sebagai langkah paling serius dalam beberapa tahun terkahir untuk seruan pembentukan perjanjian pertahanan bersama di dunia Islam.
Israel kini dianggap instabilitas regional oleh para pemimpin Muslim. Baik pejabat Arab maupun Iran memperingatkan kemungkinan operasi militer Israel ke negara-negara Timur Tengah akan terus berlangsung di masa mendatang jika tidak ada langkah tegas yang diambil.
Baca juga: Prabowo Siap Kirimkan 20 Ribu Pasukan Perdamaian ke Gaza. Begini Pidatonya di PBB!
Indonesia turut hadir dalam pertemuan darurat tersebut, diwakili oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia (RI) Sugiono.
Kehadiran tersebut menegaskan solidaritas Indonesia terhadap Qatar akibat serangan di Daha. Indonesia juga akan terus berkomitmen mendukung rakyat Palestina serta mendorong solidaritas internasional demi menjaga perdamaian.
“Agresi Israel minggu lalu bukan hanya pelanggaran kedaulatan Qatar, tetapi juga pelanggaran nyata terhadap hukum internasional, Piagam PBB, dan prinsip-prinsip OKI, serta merupakan ancaman serius bagi perdamaian regional dan global,” ujar Sugiono ketika menyampaikan pidato mewakili Presiden RI pada pertemuan darurat OKI, dilansir dari situs resmi kemlu.go.id, Senin (17/11).
“Tidak akan ada perdamaian abadi tanpa solusi dua negara. Jalan menuju perdamaian tetap satu: terwujudnya Negara Palestina merdeka dan berdaulat dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya,” tambahnya.

Baca juga: Trump Minta Bantuan Pasukan Indonesia Untuk Lucuti Senjata Hamas. Bagaimana Tanggapan Indonesia?
Selain dicetuskan pembentukan kekuatan militer negara-negara Muslim, pertemuan darurat tersebut juga menghasilkan Joint Communique yang berisi kecaman kolektif atas serangan Israel terhadap Doha sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan dan hukum internasional, dan dukungan upaya mediasi Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat.
Komunike tersebut juga menegaskan solidaritas terhadap Qatar dan memuat komitmen bersama untuk mendorong solusi dua negara, dengan Yerusalem Timur, sebagai ibu kota Palestina.
Terkait pembentukan kekuatan militer negara-negara Muslim seperti NATO, sampai saat ini Indonesia belum merespon akan hal tersebut.
Jika pembentukan kekuatan militer tersebut berhasil, maka akan berpotensi mengubah peta keseimbangan kekuatan di Timur Tengah, sekaligus menguji kembali peran Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan regional.
(CNBC Indonesia, kemlu.go.id)





![Penampakan Ibu Kota Negara [IKN] Nusantara](https://mu4.co.id/wp-content/uploads/2025/11/maxresdefault-300x169.jpg)









