Jakarta, mu4.co.id – Banyak negara mengalami kesulitan pasokan pupuk, terutama urea, karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga penutupan Selat Hormuz, yang mana sepertiga distribusi pupuk dunia melewati Selat Hormuz dan sebagian besar pasokannya berasal dari kawasan tersebut.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono menyebutkan sejumlah negara telah menjalin komunikasi dengan pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pupuk mereka. Bahkan Pemerintah India, Filipina, dan Australia bahkan telah menyampaikan minatnya secara langsung.
“Kondisi ini membuat banyak negara di dunia kini membutuhkan pasokan urea dari Indonesia. Kita adalah salah satu produsen urea terbesar di dunia. Pemerintah India sudah menghubungi kami. Saya juga telah menerima surat dari pemerintah Filipina dan Australia. Mereka siap membeli dengan harga berapa pun,” ujarnya, Senin (13/04/2026).
Selain itu, Wamentan juga menyebutkan bahwa rencana sebelumnya menutup sejumlah pabrik pupuk dalam negeri dibatalkan, karena meningkatnya kebutuhan global yang membuka peluang ekspor lebih luas bagi Indonesia. “Pabrik-pabrik yang tadinya direncanakan untuk kita suntik mati, tapi sekarang tidak jadi. Karena ternyata permintaan sangat tinggi,” jelasnya.
Baca juga: Negosiasi AS dan Iran Belum Capai Kesepakat. Selat Hormuz Jadi Sebab Utamanya!
Lebih lanjut, Wamentan menyebut dalam satu tahun ke depan, Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) ditargetkan mengekspor pupuk mencapai 1,5 juta ton, untuk memanfaatkan peluang pasar global akibat terganggunya jalur distribusi internasional. Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa kebutuhan pupuk untuk petani dalam negeri tetap menjadi prioritas utama sebelum melakukan ekspor.
“Kita punya rencana dalam setahun ini kita punya stok dan bisa ekspor pupuk sebanyak 1,5 juta ton totalnya,” kata Wamentan, Senin (13/04/2026).
Sementara itu, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi menyampaikan bahwa ketahanan pasokan pupuk nasional ditopang oleh kapasitas produksi yang kuat, dengan total mencapai 14,8 juta ton per tahun, termasuk Urea sebesar 9,4 juta ton, sehingga Indonesia bisa berpeluang mengekspor tanpa mengganggu pasokan pupuk di dalam negeri.
“Di tengah dinamika global yang menekan pasokan di banyak negara, sektor pupuk justru menempatkan Indonesia dalam posisi yang lebih kuat. Dari 9,4 juta ton total kapasitas produksi urea, kita bisa ekspor antara 1,5 sampai 2 juta ton tergantung dari kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.
Menurutnya, pemanfaatan ruang ekspor tersebut tetap dilakukan secara terukur, dengan mempertimbangkan kondisi pasokan domestik serta kebutuhan petani sebagai prioritas utama. Dengan begitu, potensi ekspor dinilai tidak hanya memberikan nilai tambah secara ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu penopang pasokan pupuk global di tengah ketidakpastian rantai distribusi saat ini.
(liputan6.com)











![Direktur Registrasi dan Identifikasi [Dirregident] Korlantas Polri, Wibowo](https://mu4.co.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG_8682-300x200.webp)



