Jakarta, mu4.co.id – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) akan memastikan manasik kesehatan untuk calon jemaah haji 1447 H/2026 M dimulai pada Januari 2026. Program ini dilaksanakan setelah rampungnya proses seleksi untuk petugas haji.
Dahnil Anzar Simanjuntak selaku Wakil Menteri Haji dan Umrah mengatakan peran tenaga kesehatan semakin besar karena durasi manasik yang relatif lebih singkat dari biasanya.
“Jadi kita kan manasik kesehatan relatif tahun ini lebih singkat ya. Paling nanti mulai Januari,” ujarnya dilansir dari himpuh, Rabu (26/11).
Baca juga: Manasik Kesehatan Haji 2026 Dimulai Awal Tahun, Waktu Pelaksanaan Lebih Singkat
Menurutnya, daftar jemaah yang berhak berangkat haji pada tahun 2026 akan keluar pada bulan November – Desember sehingga dokter bisa langsung memulai pembinaan.
“Januari itu artinya dokter akan banyak terlibat untuk mengawasi kesehatan jemaah. Kan bulan November, Desember ini pasti porsi siapa yang akan berangkat sudah diumumkan. Artinya di situ ada keterlibatan quote unquote manasik kesehatan,” jelasnya.
Dahnil menyampaikan bahwa para dokter dari Pusat Kesehatan Haji akan memantau kesehatan para calon jemaah haji selama tiga bulan sebelum pemberangkatan. Dilakukan juga latihan utama seperti pembiasaan jalan kaki dan pembiasaan fisik lainnya, serta pola makan sehat agar menjaga stamina jemaah di Armuzna. Proses ini layaknya melatih atlet menghadapi turnamen besar.
Baca juga: Kemenhaj Perketat Istitha’ah Kesehatan Jemaah Haji Sesuai Permintaan Arab Saudi
“Para dokter nanti akan lakukan pengawasan terus-menerus selama 3 bulan untuk mereka. Supaya misalnya tertib jalan kaki, kemudian menjaga makanan, dan sebagainya. Karena ini seperti mempersiapkan atlet yang akan bertanding nanti di puncak haji,” ungkapnya.
Pada haji tahun 2025, 50 persen jemaah haji yang wafat di Tanah Suci merupakan jemaah haji Indonesia. Kemenhaj mengevaluasi hal tersebut bahwa kesehatan jemaah harus ditangani dari hulu. Kematian tersebut tidak hanya jemaah lansia saja, tetapi banyak terjadi pada jemaah yang memiliki komorbid.
“Tingkat kematian jemaah haji kita tinggi sekali, persentasenya itu pun tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. Banyak orang yang sejatinya sakit dan tidak pantas berangkat, itu bisa berangkat karena dokumennya bilang dia sehat,” kata Dahnil.
Ia menilai dengan diadakannya peningkatan kualitas pemeriksaan kesehatan awal dapat menurunkan risiko tersebut.
(Himpuh)














