Media Berkemajuan

22 Juli 2024, 15:22

Sejumlah Rektor Diminta Buat Video Apresiasi Kinerja Pemerintah. Ini Faktanya!

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Rektor UNIMUS jelaskan fakta video apresiasi Presiden Jokowi. [Foto: Tangkapan layar Kompas TV, mu4.co.id]

Semarang, mu4.co.id – Masrukhi, Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang, mengkonfirmasi terkait dirinya diminta polisi untuk membuat video testimoni tentang pemilu damai. Namun, Rektor tersebut meralat tentang diminta mengapresiasi kinerja Presiden Jokowi.

“Saya hari Sabtu di telpon dari Polres untuk memberikan imbauan pemilu damai. Tapi sesungguhnya Polres itu dengan UNIMUS sangat dekat, sehingga permintaan testimoni atau imbauan itu tidak hanya dalam rangka pemilu saja. Tapi juga dalam rangka bulan ramadhan, hari raya, lalu Natal, tahun baru, ketika ada event-event lain. Intinya supaya bagaimana kita memberikan edukasi kepada masyarakat, menciptakan suasana yang kondusif. Sampaikan bahwa perbedaan pilihan di tengah-tengah masyarakat itu hal biasa, hal wajar. Tidak usah kemudian perbedaan pilihan itu menjadi benih-benih konflik,” kata Masrukhi dilansir dari Kompas, Ahad (11/2).

Sebelumnya, Ferdinandus Hindiarto, Rektor Universitas Katolik Soegiyapranata menolak permintaan membuat video apresiasi terhadap kinerja Presiden Joko Widodo yang sempat diajukan oleh seseorang yang mengaku polisi. Alasannya, permintaan tersebut dianggap tidak sesuai dengan sikap universitas.

Baca Juga: Perlu Diketahui, Ini Alasan Laptop Harus Dikeluarkan Saat Pemeriksaan di Bandara!

“Hari Jumat saya berangkat ke Surabaya dalam pertemuan perguruan tinggi Katolik Indonesia, ada chat masuk yang mengatakan beliau dari Polrestabes Semarang. Yang intinya memohon supaya saya membuat video yang isinya, poin-poinnya sama seperti video-video yang sudah beredar di beberapa rektor itu. Lalu saya menjawab bahwa pilihan kami, sikap kami mohon maaf tidak bisa memenuhi permintaan itu. Kenapa? Karena kami punya dasar yang kuat. Dasar yang pertama konstitusi Apostolik untuk universitas katolik di dunia, di mana di pembukaan hakikat itu sudah dinyatakan Universitas Katolik mencari, menemukan dan menyebarluaskan kebenaran. Dan obyektif kok saya, kami obyektif. Pada saat Dies Natalis ke ke-40 tahun 2022 kami mengundang pak presiden. Tetapi ketika ada sesuatu yang kurang pas, kami harus bersuara, menyuarakan kebenaran itu,” ucap Ferdinandus Hindiarto. 

Kapolrestabes Semarang, Kombes Irwan Anwar membantah pengakuan Ferdinandus. Dia menjelaskan bahwa permintaan untuk membuat video tersebut tidak dianggap sebagai intervensi terhadap masyarakat akademik, melainkan sebagai upaya untuk mendukung suksesnya pemilu yang damai.

“Ajakan kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, termasuk teman-teman adik mahasiswa, civitas akademik itu mengajak untuk mensupport terciptanya pemilu damai. Tidak ada maksud-maksud lain dari hal tersebut,” ucap Kombes Irwan.

Sumber: Kompas.Tv

[post-views]
Selaras