Media Utama Terpercaya

12 Maret 2026, 22:48
Search

Riset BRIN: Polusi Mikroplastik Telah Mencapai Dasar Laut Dalam Indonesia

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
mikroplastik di laut dalam Indonesi
Ilustrasi mikroplastik di laut dalam Indonesia. [Foto: yiari.or.id]

Makassar, mu4.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan mikroplastik di laut Indonesia hingga kedalaman sekitar 2.450 meter. Partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter itu berpotensi masuk ke rantai makanan laut dan akhirnya dikonsumsi oleh manusia.

Temuan ini berada di jalur Arus Lintas Indonesia (Arlindo) atau Indonesian Throughflow, yaitu sistem arus laut yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui sejumlah selat di Indonesia.

“Arlindo ini menghubungkan dua samudra besar, Pasifik dan Hindia. Selain membawa massa air, garam, dan nutrien, arus ini juga berpotensi membawa partikel kecil seperti mikroplastik,” ungkap peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional, Corry Yanti Manullang, dikutip dari Kompas, Kamis (12/3).

Baca Juga: Peneliti Temukan Hewan Kecil Yang Bisa Bikin Mikroplastik Hilang dari Bumi, Apa Itu?

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Marine Pollution Bulletin melalui artikel berjudul Vertical Distribution of Microplastic Along the Main Gate of Indonesian Throughflow Pathways(2024). Penelitian ini ditulis oleh peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional, Corry Yanti Manullang, bersama tim kolaborasi dari Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, dan China.

Penelitian dilakukan pada Januari–April 2021 dalam program kolaborasi internasional TRIUMPH. Sampel diambil di 11 titik dari Selat Makassar hingga Selat Lombok pada kedalaman 5 hingga sekitar 2.450 meter.

Pengambilan sampel mikroplastik menggunakan alat rosette sampler di Arus Lintas Indonesia. [Foto: Fismatman Ruli/PR Laut Dalam BRIN]

Dari 872 liter air laut yang dianalisis, ditemukan 924 partikel mikroplastik dengan rata-rata 1,062 partikel per liter, yang terdeteksi di seluruh lokasi penelitian hingga kedalaman lebih dari dua kilometer dibawah permukaan laut.

Penelitian menemukan bahwa lebih dari 90% mikroplastik di laut dalam berbentuk serat (fiber) yang berasal dari limbah tekstil sintetis. 

Berdasarkan analisis spektroskopi Raman, polusi ini terdiri dari polimer seperti polyester, polypropylene, dan polyurethane yang umum digunakan pada pakaian dan kemasan. Temuan ini menegaskan bahwa laut dalam kini menjadi titik penumpukan limbah plastik industri.

(Kompas)

[post-views]
Selaras