Jakarta, mu4.co.id – Nama dr. Piprim Basarah Yanuarso menjadi sorotan usai polemik pemberhentiannya dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan dimutasi ke rumah sakit lain oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Sekitar dua dekade ia berpraktik di RSCM, rumah sakit rujukan nasional yang menangani kasus kompleks termasuk kelainan jantung bawaan. Namun, saat ini ia dimutasi ke RSUP Fatmawati, yang kemudian memicu polemik di ruang publik.
Dilansir dari laman RCTI Plus pada Ahad (22/2), Ketua Umum PP Ikatan Dokter Anak Indonesia ini dikenal sebagai dokter spesialis anak dengan subspesialis kardiologi anak. Lahir 15 Januari 1967, Piprim menekuni kesehatan anak sejak awal karier, khususnya penyakit jantung pada bayi hingga remaja.
Setelah menyelesaikan pendidikan dokter umum dan spesialis anak, ia melanjutkan subspesialis kardiologi anak, termasuk pelatihan di Institut Jantung Negara, Malaysia. Program satu tahun yang selesai pada tahun 2007 itu memperkuat gelar Sp.A(K) yang disandangnya.
Di luar praktik klinis, ia aktif di dunia akademik sebagai dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pada Mei 2025, ia meraih gelar doktor Ilmu Kedokteran dari kampus tersebut, menambah rekam jejaknya sebagai dokter sekaligus akademisi.
Sebagai Ketua Umum PP Ikatan Dokter Anak Indonesia, Piprim juga terlibat dalam berbagai isu strategis mulai dari kesehatan anak, penguatan kompetensi dokter spesialis, hingga pengembangan sistem pendidikan kedokteran anak di Indonesia.
Polemik muncul dari sikapnya yang mempertahankan independensi kolegium ilmu kesehatan anak. Ia menilai kolegium seharusnya tetap mandiri dan tidak berada langsung di bawah kementerian.
Perdebatan yang melibatkan dr. Piprim Basarah Yanuarso turut mengangkat isu tata kelola kolegium kedokteran. Ia menegaskan pentingnya kolegium tetap independen sebagai penjaga mutu dan standar kompetensi profesi.
Dengan latar belakang klinis, akademik, dan organisasi, Piprim dikenal vokal dalam mendorong penguatan sistem pendidikan serta layanan kesehatan anak. Pengalaman panjangnya menjadikannya figur penting dalam dinamika pengembangan ilmu kesehatan anak di Indonesia.
(RCTI Plus)













