Jakarta, mu4.co.id – PT Pertamina International Shipping (PIS) menegaskan dua kapal tankernya masih belum dapat melewati Selat Hormuz. Kapal tanker Pertamina Pride dan Gamsunoro saat ini masih berada di Teluk Arab, sehingga informasi yang menyebut keduanya telah melintasi Selat Hormuz adalah hoaks.
“Dua kapal Pertamina International Shipping yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro saat ini masih berada di Teluk Arab, kondisi kapal dan kru dalam keadaan aman dan selamat,” ungkap Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, dikutip dari Bloomberg Technoz, Jum’at (13/3).
Vega Pita menjelaskan kapal Gamsunoro mengangkut kargo milik pihak ketiga, sedangkan Pertamina Pride membawa pasokan minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri.
Baca Juga: Dubes Iran Bantah Penutupan Selat Hormuz. Boroujerdi: Hanya Memberlakukan Protokol…
PIS juga terus memantau posisi armada dan kru secara real-time serta berkoordinasi dengan otoritas maritim setempat untuk memastikan keamanan kru dan muatan.
“Berkoordinasi dengan pemerintah, Pertamina Group menerapkan metode Regular, Alternative and Emergency dalam menentukan metode rantai pasok yang paling efektif dan aman untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat dan memastikan distribusi berjalan lancar,” jelas Vega.
Vega Pita menyatakan rantai pasok dan distribusi energi saat ini tetap terjaga, dengan sekitar 345 armada kapal dikelola oleh Pertamina Group.
Pihak PIS terus memantau perkembangan di Selat Hormuz serta berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, terutama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
Baca Juga: Kronologi Ledakan Kapal Musaffah 2 di Selat Hormuz, Tiga WNI Hilang
Meski kapasitas tanker minyak PIS yang terjebak di Selat Hormuz belum diketahui, namun data pelacakan Kpler menunjukkan sekitar 40 kapal tanker jenis very large crude carrier (VLCC) atau supertanker, masing-masing berkapasitas sekitar 2 juta barel minyak, sedang menunggu di Teluk Persia.
Selat Hormuz merupakan jalur sempit penghubung Teluk Persia dan Samudra Hindia yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Ketegangan dan serangan di sekitar wilayah tersebut membuat banyak kapal tanker menghindari jalur ini, sehingga puluhan kapal bermuatan penuh kini tertahan di Teluk Persia dan mengganggu logistik serta ekspor energi.
(Bloomberg Technoz)















