Media Utama Terpercaya

19 Januari 2026, 16:10
Search

Pada Pertengahan 2026, Indonesia Akan Berhenti Impor BBM Solar. Ini Penjelasannya!

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Kilang minyak atau Refinery Development Master Plan [RDMP] Balikpapan
Kilang minyak atau Refinery Development Master Plan [RDMP] Balikpapan. [Foto: ESDM]

Balikpapan, mu4.co.id – Untuk memperkuat pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional, pemerintah sangat menaruh harapan kepada pengoperasian proyek kilang minyak atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa dengan bertambahnya kapasitas kilang tersebut memberikan peluang Indonesia untuk berhenti impor BBM, karena kebutuhan nasional dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.

“Insya Allah begitu RDMP Kilang Balikpapan diresmikan pengoperasiannya mulai tahun ini, impor solar dihentikan. Hal ini dilakukan dalam rangka mendorong kedaulatan energi dengan tidak lagi mengandalkan pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri melalui impor,” ujarnya dilansir dari CNBC Indonesia, Jum’at (16/1).

Bahlil menjelaskan keseimbangan antara kebutuhan pasokan solar nasional. Tercatat kebutuhan solar di Indonesia sebesar 39,8 juta kiloliter (kl) per tahun. Dari jumlah tersebut, sebesar 15,9 juta kl per tahun disumbangkan dengan program B40 pasokan Fatty Acid Methyl Este (FAME), sehingga kebutuhan solar murni (B0) sebesar 23,9 juta kl per tahun.

Baca juga: Prabowo Resmikan Kilang Minyak Terbesar RI di Balikpapan Senilai Rp123 Triliun!

Pemerintah menargetkan pemberhentian impor solar untuk produk CN 48 maupun CN 51 mulai pertengahan 2026 karena produksi nasional yang saat ini mencapai 26,5 juta kl per tahun.

Untuk produk bensin, kebutuhan nasional mencapai sekitar 38,5 juta kl per tahun, yang terdiri dari bensin RON 90 sebesar 28,9 juta kl per tahun, RON 92 sebesar 8,7 juta kl per tahun, serta RON 95 dan RON 98 sekitar 650 ribu kl per tahun. Melalui optimalisasi RDMP Kilang Balikpapan bensin RON 90 dapat ditingkatkan hingga 5,5 juta kl per tahun, dan impor bensin RON 92, RON 95, dan RON 98 dapat ditekan hingga sekitar 3,6 juta kl per tahun.

“Ke depan, melalui penerapan E10 kita dapat menghemat impor hingga 3,9 juta kl per tahun, dan melalui pengembangan kilang selanjutnya kita dapat menyetop impor bensin RON 92, 95, dan 98 serta mengurangi impor bensin RON 90,” kata Bahlil.

Menurut Bahlil, penguatan dan pengembangan kilang merupakan tanggung jawab negara untuk memastikan ketersediaan pasokan energi bagi masyarakat sebagaimana pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa cabang-cabang produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara.

Baca juga: Kilang Pertamina Balikpapan Luncurkan BBM Baru UltraDex. Ini Keunggulannya!

Tiga langkah utama yang disiapkan pemerintah untuk mencapai kemandirian energi. Pertama, meningkatkan kapasitas kilang, seperti pengembangan kilang Balikpapan. Kedua, mengoptimalkan program biodiesel, termasuk B40 guna mengurangi ketergantungan pada solar berbasis fosil. Ketiga, agar ketersediaan BBM tetap terjaga maka keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan harus diperhatikan.

Fasilitas utama yang dimiliki RDMP Balikpapan adalah Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) merupakan jantung kilang Balikpapan. Dengan CDU tersebut yang mampu meningkatkan kapasitas kilang menjadi 360 ribu barel minyak per hari, yang semula hanya 260 ribu barel. Sedangkan RFCC adalah pengolah minyak mentah yang mampu mengubah residu menjadi produk yang bernilai tinggi.

“Yang (RDMP) sekarang kualitasnya sangat bagus sekali, sudah menuju setara dengan Euro 5, dan ini menuju kepada net zero emission,” jelas Bahlil.

Proyek ini juga terintegrasi dengan dua tangki penyimpanan raksasa di Lawe-lawe dengan kapasitas mencapai 2 juta barel dan Terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kiloliter yang bisa melayani distribusi BBM untuk Indonesia bagian timur.

(CNBC Indonesia)

[post-views]
Selaras