Media Utama Terpercaya

13 Januari 2026, 10:03
Search

Muhammadiyah Telah Tetapkan Awal Ramadan 1447 H, Pakar Ilmu Falak Jelaskan Alasannya!

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Print
Alasan Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadan 1447 H
Pakar Ilmu Falak Jelaskan Alasan Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadan 1447 H [Foto: Ilustrasi mu4.co.id]

Yogyakarta, mu4.co.id – Pakar ilmu falak Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (MTT PP) Muhammadiyah, Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, menjelaskan mengenai penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penjelasan tersebut dimuat dalam laman resmi Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (OIF UMSU), pada Selasa (06/01/2026) sekaligus sebagai respons atas tulisan seorang Profesor Riset Astronomi-Astrofisika BRIN sekaligus anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama RI, yang menyebut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) “tidak cermat merujuk kriteria Turki”. Hal itupun dinilai berpotensi menimbulkan preseden negatif di tengah publik.

Dilansir dari laman resmi muhammadiyah.or.id, Arwin menyebut Muhammadiyah telah mengeluarkan penjelasan resmi pada 27 Muharam 1447 H atau 22 Juli 2025 M melalui Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah terkait penyesuaian penetapan 1 Ramadan 1447 H, yang dirilis ke publik pada 23 Juli 2025 silam.

Dalam penjelasan itu juga disebutkan, bahwa awal Ramadan 1447 H sebelumnya tercantum dalam kalender cetak Muhammadiyah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, kemudian dikoreksi menjadi Rabu, 18 Februari 2026, usai melalui kajian ilmiah yang mendalam dan diskusi intensif, termasuk dengan para ahli teknologi informasi dan pengembang perangkat lunak hisab. Meski demikian, Muhammadiyah juga menyadari bahwa keputusan tersebut akan berbeda dengan Diyanet Turki, yang menetapkan awal Ramadan 1447 H pada 19 Februari 2026.

Baca juga: Jelang Ramadhan 1447 H, Masjid Al Jihad Banjarmasin Kembali Membuka Donasi Buka Puasa dan Sahur

Lebih lanjut, Arwin menjelaskan bahwa penetapan 18 Februari 2026 didasarkan pada penerapan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang merujuk pada kriteria hasil Muktamar Turki 2016, yakni ketinggian hilal minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat, serta syarat ijtimak. Dalam kasus Ramadan 1447 H, parameter ijtimak sebelum pukul 24.00 UTC di wilayah manapun di dunia memang belum terpenuhi. Namun, parameter lanjutan, yakni ijtima’ sebelum fajar di Selandia Baru serta keterpenuhan kriteria 5–8 derajat di daratan benua Amerika, telah terpenuhi.

Kajian Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menunjukkan bahwa sejumlah wilayah di Semenanjung Alaska dan sekitarnya memenuhi parameter tersebut. Di antaranya wilayah dengan koordinat 56° 48′ 49″ LU & 158° 51′ 44″ BB, serta beberapa kawasan lain seperti Chevak, Tununak, Hooper Bay, Togiak, Kipnuk, dan Port Heiden. Wilayah-wilayah ini secara administratif merupakan bagian dari Amerika Serikat dan secara geografis masih termasuk daratan benua Amerika. Atas dasar itulah, Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026 secara global.

Di samping itu, Muhammadiyah memandang bahwa wilayah yang memenuhi kriteria berada di daratan utama Amerika Utara, sehingga sah dijadikan dasar penetapan kalender hijriah global.

Meski demikian, Arwin pun mengatakan bahwa perbedaan ini bukan soal cermat atau tidak cermat, melainkan perbedaan analisis ilmiah terhadap penerapan kriteria yang sama. Ia juga menekankan bahwa putusan Muktamar Turki 2016 bersifat umum dan tidak merinci aspek teknis seperti batas ufuk, awal hari, atau metode perhitungan rinci. Bahkan dalam buku Mu’tamar Tauhid at-Taqwim al-Hijry al-Muwahhad, disebutkan juga bahwa hasil Muktamar Turki masih memerlukan uji coba, evaluasi, dan pengembangan lanjutan. Karena itu, berbagai lembaga seperti FCNA, ECFR, Diyanet Turki, hingga Muhammadiyah melakukan ijtihad masing-masing dalam mengimplementasikannya.

Arwin pun mengakhiri tulisannya dengan klaim bahwa KHGT Muhammadiyah tidak cermat sebagai tendensius yang tidak berdasar. Menurutnya, penetapan awal Ramadan 1447 H telah melalui kajian serius dan pertimbangan multidisipliner.

[post-views]
Selaras